Dan Piring Itu Terbang Lagi (Part III)

Posted on Kamis, 31 Oktober 2013

(Pada bagian III ini izinkanlah saya mengambil alih cerita. Akan tetapi, dialog komunikatif Jamie akan tetap aku hadirkan).


Siang itu, cuaca cukup mendung, tak seperti biasanya. Di meja kerjaku ada beberapa tumpukan berkas atau arsip penelitian lapangan yang harus aku selesaikan seperti biasanya. Tiba-tiba saja telepon kabel di ruang kerjaku berdering. Ku terima telepon itu, berpikir bahwa itu telepon dari bosku. Tapi ternyata tidak. Itu suara ayah, suara yang kedengaran aneh, tak jua pula seperti biasanya. Sudah begitu, aku pun tak punya firasat apa-apa tentang Jamie, sebab yang ku tahu ia baik-baik saja pagi tadi, menaiki bus kuning panjang itu pergi ke sekolah. Namun, aku tersentak ketika suara berat ayah mengatakan Jamie masuk Rumah Sakit. Kondisinya tiba-tiba drop dan sempat pingsan saat di sekolah. Aku bingung antara pertanyaan bagaimana dan mengapa, serta harus ku mulai dari mana. Aku hanya terdiam sambil mendengar ayah berceloteh soal Jamie dan kondisinya. Tanpa berpikir panjang lagi, ku tutup telepon itu, sambil berlari menuju ruang kerja milik bosku…membeberkan sederet litani permohonan izin untuk melihat adikku di RS. Beruntung saja, aku diberi kesempatan. Aku pun bergegas pergi, dengan menggunakan taksi. Sekitar beberapa menit perjalanan aku pun sampai di RS. Ku hampiri beberapa perawat yang sementara bercokol dan bercakap ria di pojok ruangan dengan tulisan Information di sebuah papan kecil yang terletak kira-kira 3 meter di atas kepala mereka.
“Permisi, apakah ada pasien yang bernama Jamie yang baru dimasukkan siang ini?,” tanyaku
“Apakah dia seorang bocah?,” balas suara lembut milik perawat berhidung mancung dengan alis mata tebal.
“Ya. Dia adikku,” ujarku
“Ohh… Baik. Dia berada di ruangan 405 di sebelah kiri ruang Emergency,” terangnya.
“Ok. Terima kasih,” ucapku.
Aku langsung berlari menuju ruangan itu. Kulihat ayah dan ibuku duduk dengan cemas, menanti sepatah kata dokter yang sementara memeriksanya. Sedangkan aku… Aku pun demikian. Bahkan terlalu cemas, apalagi khawatir. Hampir 30 menit kami menunggu. Akhirnya sang dokter yang ditunggu menunjukkan batang hidungnya dan meminta ayah berbicara empat mata saja. Aku hendak memprotesnya, tapi ditahan ibu. Ya, aku cukup geram saat itu, sembari berharap Jamie tidak apa-apa dan ternyata harapanku itu memang tidak terkabul. Jamie divonis mengidap leukimia ganas dan harus dirawat di Rumah Sakit hingga akhir hayatnya.

Kabar itu bagaikan sembilu. Mengapa harus leukimia? Mengapa bukan polio atau semacamnya? Mengapa juga harus Jamie yang sakit? Sibuk dengan 1001 macam pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku itu, tanpa sadar aku meneteskan air mata. Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen atau mainan kesayangannya. Aku sedih jika beberapa minggu lagi Aku harus hidup tanpa Jamie, yang selalu membakar semangatku untuk terus bekerja. Untuk mencari sedikit uang demi dia. Jujur saja aku belum siap! Sungguh!!! Tapi, bukan hanya aku saja. Ayah dan ibuku pun demikian. Bisa ku lihat dengan jelas, ayah meneteskan air mata sambil memeluk ibu.

Sungguh munafik!!!! ketusku dalam hati disertai 8 makian gratis yang ku dendangkan dalam hati ini. Ahh pria tua itu !!! Ingin rasanya aku memangsanya hidup-hidup!!!


Setelah menghabiskan beberapa menit yang penuh dengan angkara murka, kami akhirnya diberi izin untuk menjenguk Jamie. Beruntung Jamie sudah sadar. Kami pun menghampirinya, tanpa sepatah kata terucap. Ibu memeluknya sambil menangis pada dadanya. Ayah hanya berdiri menatap Jamie dengan matanya yang memerah. Sedangkan aku… aku berdiri pada kakinya sambil menggelitik telapak kaki kecil miliknya, tuk membuatnya tersenyum. Yah..sekedar mencairkan suasana. Aku tak mau Jamie pun sedih ketika melihat kami bersedih karena dia. Dia pun tersenyum sambil sesekali menatapku dengan matanya yang biru itu. Lama terdiam Jamie pun membuka percakapan dengan terlebih dahulu bertanya pada ayahku.
“Ayah, apakah piring-piring di rumahku sudah ada yang mengumpulkannya?,” ujar Jamie.
“Belum anakku. Mereka menantimu tuk mengumpulkannya,” kata ayah sembari tertunduk. Bisa ku lihat perasaan malu dan menyesal akan apa yang telah dilakukannya.
“Aku mau mengumpulkan dan menghitungnya lagi jika aku sembuh nanti,” kata Jamie di tengah senyuman manis miliknya.
“Apakah ayah mencintai ibu?,” tanya Jamie kembali
“Iya, nak… Ayah mencintainya lebih dari apa pun,”
“Ibu… Apakah ibu mencintai ayah?,”
“Iya… Ibu pun mencintai ayahmu. Tapi, mengapa kau bertanya seperti itu?,” ujar ibuku.
“Tidak. Aku hanya ingin memastikannya saja. Dan setidaknya untuk saat ini aku bisa melihatnya dari wajah ayah dan ibu,” katanya sambil tertawa.
“Kalau begitu, aku punya permintaan untuk ayah. Itu pun kalau ayah memperbolehkan aku mengatakannya,” ujar Jamie sembari tertunduk tapi terkesan cuek.
“Apa itu nak? Katakan saja. Ayah akan menurutinya,” balas ayahku.
“Ok. Baiklah.” Perlahan Jamie merogoh kantong celananya, tuk mengambil secarik kertas putih kecil dan dibacanya kepada ayah.


“Ayah berhutang 162 buah pecahan piring atau 26 buah piring utuh, 3 kaca jendela yang pecah, 1 buah TV rusak, 2 kursi kayu pemberian paman John yang telah ayah patahkan, dan 10 kali tamparan di pipi ibu serta 6 kali menjambak rambut ibu. Selain itu, ayah juga berhutang 20 kotak kecil kue Teddy Bear kesayanganku. Bisakah ayah menebusnya?,” ditatapnya mata ayah lekat-lekat, berharap ayahku kan mengabulkan permohonannya.
“Baik. Ayah siap menebusnya. Tapi, asalkan kamu sembuh. Berjanjilah pada ayah kalau kamu mau terus tinggal bersama ayah dan ibu,” ujar ayah kembali.
“Baik. Ok !,” tegas Jamie sambil melemparkan senyumnya kepadaku. Aku pun tersenyum padanya, meski aku tahu hidupnya tinggal beberapa minggu lagi, dan tak ada harapan untuk sembuh. Bahkan jika aku berharap adanya keajaiban, itu pun serasa mustahil, dan akhirnya memang mustahil !!!

Seminggu berlalu akhirnya pihak RS menyerah. Tak ada lagi harapan tersisa bagi Jamie. Hidup Jamie tinggal menunggu waktunya saja. Hal itu membuatku frustrasi, dan imbasnya aku hampir kehilangan pekerjaanku. Dengan penuh pertimbangan matang, akhirnya kami pun membawa Jamie pulang. Biarlah dia pergi dalam suasana keluarga kami saja, dan biarlah hal itu juga jadi pelajaran bagi kami, Jamie-lah yang merubahnya. Malam terakhirnya Jamie mengunjungi kamarku. Aku masih terjagai sambil mengerjakan beberapa tumpukkan arsip kantor yang tinggal beberapa lembar saja.
“Hei kak, bolehkah aku masuk?,” tanyanya.
“Masuklah. Aku kan tidak melarangmu. Anggap saja, ini kamarmu,” balasku sambil berdiri tepat di hadapannya. Dia pun melangkah dengan gontai sambil tangannya menyembunyikan sesuatu di belakangnya.
“Apa itu? Apa yang kau sembunyikan? Bisakah aku melihatnya?,” ujarku penasaran.
“Ini…Tadi aku menggambar ini…


Disodorkannya kertas putih kecil itu padaku. Ku ambil kertas itu dan ku lihat sebuah lukisan crayon miliknya dengan aneka warna-warni hasil kreasi imajinasi 8 tahunnya.
Tapi, aku tak tahu apakah itu bagus atau tidak,” ujarnya acuh.
“Hei, siapa bilang lukisan ini tak bagus? Ini lebih bagus dari sekedar kata bagus. Kau mengerti? Memangnya, dari mana otak kecilmu ini mendapatkannya?,” tanyaku sembari menggendongnya dan menunjuk otak kecilnya. }
“Aku melihatnya dalam mimpiku beberapa hari lalu. Tapi, kakak tidak bohong kan jika gambarku itu bagus?,” balasnya.
“Oohh.. Jadi begitu? Dari mana kau tahu bahwa aku bohong atau tidak?,” kataku.
“Sebenarnya aku tak tahu kak… Aku hanya meniru kata dokter waktu memeriksaku kemarin sore,” ujarnya ceplos-ceplos disertai sikap acuhnya.
“Hahaha… Kau memang peniru yang handal,” dan aku pun tertawa begitu juga dengan Jamie.

Bersambung
“Vanjer”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar