Terbangnya piring-piring di
rumah, membuatku sedih. Soalnya, ayah tak seperti dulu lagi. Biasanya,
sebelum berangkat kerja dia selalu menggendongku dulu, mengelus-elus
kepalaku, atau memandikanku. Malamnya, ayah selalu membawakanku sekotak
kecil kue Teddy Bear kesayanganku dan kemudian mendudukkan aku di
depan TV besar di ruang tamu, menunggunya membersihkan badan dan
sesudah itu menemaniku nonton film kartun atau opera sabun hingga aku
tertidur pulas di pangkuannya. Tapi…itu hanya masa lalu saja. Sejak
ayah marah-marah, hanya ibu saja yang selalu menemaniku, membacakan
cerita tentang Moudy, (anjing cerdas yang selalu ada di sisi tuannya
hingga dia meninggal), memelukku dan akhirnya membenamkan wajahnya pada
tubuhku diiringi air mata yang keluar dari bola mata biru miliknya
seperti punyaku. Ibu masih terus menangis, bahkan kadang-kadang ku
dengar dia menjerit sambil menatap langit, meminta pertolongan dari
seorang paman yang seringkali disebutnya dengan nama Tuhan.
Kejadian itu juga membuat kakakku membenci ayah. Katanya, kebencian yang dimilikinya begitu besar. Bahkan telah menjadi dendam yang entah kapan kan berakhir. “Aku bingung! Mengapa kakak membenci ayah?,” pikirku. Karena ingin tahu aku pun bertanya padanya.
“Hei kak, mengapa kau membenci ayah? Dia kan tidak memukulmu. Dia hanya memukul ibu. Tapi ibu kan tidak membencinya,” ujarku.
“Justru karena dia memukul ibu, makanya aku membencinya. Dia juga tak melakukan kewajibannya dengan baik sebagai seorang ayah, yaitu merawatmu dan menyayangimu atau memberi perhatian padamu,” jawabnya.
“Tapi, ayah kan tak memukulku? Mengapa kau membencinya? Aku tak membencinya,” ujarku.
“Kau akan tahu jawabannya ketika kau sudah besar nanti, sobat kecilku,” ucap kakakku, diselingi helaan panjang nafasnya.
“Lalu, apa itu perhatian? Apakah perhatian itu sama seperti membawakanku sekotak kecil kue Teddy Bear yang biasa ayah lakukan dulu, sebelum piring-piring itu terbang?,” aku bertanya lagi.
“Ya, kira-kira seperti itu!,” tegas kakakku serius.
Hari itu aku lewati bersama kakakku. Dia membawaku berkeliling dengan sebuah mobil milik temannya. Aku dibelikannya sekotak kecil kue Teddy Bear kesayanganku dan beberapa mainan kecil lainnya. Tapi, aku sebenarnya tak merasa betah. Aku ingin cepat-cepat pulang untuk menghitung pecahan-pecahan piring itu lagi. Aku juga ingin ibu menangis sambil memelukku. Tak lama kemudian, kami pun pulang, dan aku langsung mencari pecahan-pecahan piring yang dibanting ayahku untuk ku hitung.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Pagi itu, aku dibangunkan kakakku. Ku buka mataku dan ku tatap lekat garis wajah usia mudanya, mimik keras dan tegar tapi mudah rapuh, wajah yang selalu menemaniku di saat semuanya menjadi berubah; wajah yang selalu jujur berkata-kata bila ku bertanya.
“Hei kak, apakah piring-piring itu masih terbang lagi pagi ini?,” tanyaku.
“Hmm…ya! Tapi, kali ini bukan hanya piring. Ayah telah memecahkan TV dan mematahkan dua kursi kayu buatan paman John,” balasnya.
“Berarti, aku tak bisa lagi menonton film favoritku, Tom&Jerry,” ujarku sedih.
“Ya! Untuk sementara ini, kau tak bisa menontonnya. Tapi jangan kau pikirkan hal itu, sobat kecil. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah belajar dan mewujudkan janjimu padaku. Ok?.”
“Ok!,”
“Dan sebagai langkah awal, kau harus ke sekolah pagi ini bukan?” katanya.
“Ya!,” ujarku bersemangat.
“Hmm…Kalau begitu, ayo sudah saatnya kau mandi. Kau mau aku memandikanmu atau kau mau melakukannya sendiri,”
“Aku mau melakukannya sendiri. Tapi, kau juga harus mengawasiku. Jangan-jangan aku salah mengambil pasta gigi seperti kemarin,” ujarku malu-malu, salah tingkah.
“Ok! Aku akan mengawasimu,” balas kakakku disertai senyum di wajahnya.
Aku pun mengguyur tubuhku dengan air hangat yang sudah disiapkan kakakku.
Usai mandi, dia membantuku mengenakan seragam sekolah dan menyediakan semangkuk sereal coklat dan susu sapi murni. Kemudian dia menghantarku menunggu bis sekolah di halaman rumahku. Saat melewati ruang tamu, aku bisa melihat TV besar itu hancur berantakan, dua buah kursi kayu berkaki empat itu sudah patah, dan pecahan-pecahan piring yang berserakan di lantai.
“Jadi, kita tak bisa menonton lagi?,” tanyaku di sela-sela langkah kaki kami menuju halaman.
“Ya, untuk sementara ini kita tak bisa menonton. Tapi, jangan kau pikirkan itu,” jawabnya.
“Apakah itu berarti kau akan membeli TV baru untukku?,” aku bertanya lagi.
(Saat Jamie bertanya tentang hal ini, aku tersentak! Terlalu kaget! Jamie adik kecilku mengatakan hal yang sebelumnya telah ku rencanakan. Ketika TV itu dihancurkan ayah, aku berjanji tuk menggantikannya dengan yang baru, karena Jamie. Dan aku tak berniat mengatakan hal ini padanya. Biarlah itu menjadi kejutan untuknya saja. Tapi, terlambat! Dia telah mengetahuinya, hanya dengan otak 8 tahun-nya, dan itu membuatku tak habis pikir!)
“Ehhmm…a…a…Ya! Tapi, bagaimana kau tahu? Aku kan tidak mengatakannya padamu!” ujarnya terbata-bata.
“Tidak. Sebenarnya aku tidak tahu. Aku hanya berkata saja apa yang ku pikirkan,” jawabku.
Kami pun terdiam untuk beberapa saat lamanya. Bisa ku lihat detak jantung di dadanya bergetar tak karuan. Dia mungkin saja bingung setelah apa yang ku katakan barusan. Tapi, aku kan cuma mengatakan apa yang ku pikirkan!
(Jamie begitu acuh dan tak peduli jika ucapan yang disemburkannya padaku, membuat otakku tak karuan memikirkannya. Aku bingung! Dari mana ia memperoleh semua itu! Sebesar apakah pikirannya hingga bisa mengetahui apa yang ku pikirkan? Ahh…Jamie…kau membuatku tak mampu menjawabnya!)
Kakakku masih menemaniku menunggu bis sekolah yang akan aku tumpangi.Kami duduk di ayunan milikku, yang dibelikan kakak saat usiaku 5 tahun.
Beberapa menit kemudian, bis sekolah yang aku tunggu sampai juga. Sopirnya Tuan Thomas, tuan yang sering membelikan permen karet untukku dan sering menyapaku dengan sebutan si mata biru.
“Hei Jamie, apa kabarmu sobat kecilku, si mata biru?” sapa tuan Thomas sambil tersenyum ketika aku bergegas naik bis dengan warna kuning bergaris putih itu.
“Aku baik-baik saja tuan Thomas. Tapi, aku tak melihat Billy. Apa dia tidak masuk sekolah hari ini?” tanyaku.
“Ya, benar! Billy sedang sakit. Jadi, dia tak masuk sekolah hari ini,” jawab tuan Thomas.
“Bisakah aku berdoa untuknya tuan Thomas?” ujarku.
“Aku akan sangat senang bila kau melakukannya. Tapi, mengapa kau mau berdoa untuknya?”
“Sebenarnya aku tak bermaksud apa-apa,” ujarku sembari menunduk. “Aku hanya mau berdoa untuknya agar jika suatu saat nanti giliran aku yang sakit, Billy juga mau berdoa untukku,” sambungku.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Pria itu lalu tersenyum. Bisa ku lihat, air mata menggenang di wajahnya. Rasa haru dan semangat yang menggebu-gebu terpancar dari wajah pria berumur 30-an tersebut. Aku pun begitu. Aku tak punya alasan lain untuk membanggakan Jamie, adikku pagi itu. Alasannya hanya satu. Pria itu, terharu karena Jamie mau berdoa untuk anaknya, Billy, teman sekelas Jamie yang sedang sakit. Hanya itu! Tak lebih!
Bis itu pun melaju, diiringi lambaian tangan Jamie dan senyum kecil di balik tatapan bola mata biru miliknya, saat embun masih menempel di kaca jendela mobil berwarna kuning dan bentuknya yang panjang itu. Aku pun tak tahu, bila lambaian dan senyum itu, adalah hal terindah dan yang terakhir ku lihat di balik wajah adikku itu, karena selang beberapa jam kemudian, Jamie harus dilarikan ke Rumah Sakit. Dia akhirnya divonis dokter menderita leukimia ganas, dan tak ada harapan lagi untuk sembuh.
Sejak itulah, Jamie membawa perubahan dalam keluarga kami. Pecahan-pecahan piring yang dihitungnya, dan sejumlah percakapan menarik yang selalu penuh makna, harapannya tuk melihat ayah dan ibuku kembali seperti dulu lagi terjawab sudah walau akhirnya Jamie harus membayarnya dengan mahal. Bahkan, semenjak Jamie masuk rumah sakit, aku sering meneteskan air mata ketika ku lihat tubuh sobat kecilku itu tergolek lemah tak berdaya, menunggu ajal tuk menjemputnya ditemani sejumlah jarum suntik dan kerasnya obat-obat yang harus dikonsumsi Jamie demi memperpanjang hidupnya walau hanya sebentar saja.
Bersambung
“Vanjer”
Kejadian itu juga membuat kakakku membenci ayah. Katanya, kebencian yang dimilikinya begitu besar. Bahkan telah menjadi dendam yang entah kapan kan berakhir. “Aku bingung! Mengapa kakak membenci ayah?,” pikirku. Karena ingin tahu aku pun bertanya padanya.
“Hei kak, mengapa kau membenci ayah? Dia kan tidak memukulmu. Dia hanya memukul ibu. Tapi ibu kan tidak membencinya,” ujarku.
“Justru karena dia memukul ibu, makanya aku membencinya. Dia juga tak melakukan kewajibannya dengan baik sebagai seorang ayah, yaitu merawatmu dan menyayangimu atau memberi perhatian padamu,” jawabnya.
“Tapi, ayah kan tak memukulku? Mengapa kau membencinya? Aku tak membencinya,” ujarku.
“Kau akan tahu jawabannya ketika kau sudah besar nanti, sobat kecilku,” ucap kakakku, diselingi helaan panjang nafasnya.
“Lalu, apa itu perhatian? Apakah perhatian itu sama seperti membawakanku sekotak kecil kue Teddy Bear yang biasa ayah lakukan dulu, sebelum piring-piring itu terbang?,” aku bertanya lagi.
“Ya, kira-kira seperti itu!,” tegas kakakku serius.
Hari itu aku lewati bersama kakakku. Dia membawaku berkeliling dengan sebuah mobil milik temannya. Aku dibelikannya sekotak kecil kue Teddy Bear kesayanganku dan beberapa mainan kecil lainnya. Tapi, aku sebenarnya tak merasa betah. Aku ingin cepat-cepat pulang untuk menghitung pecahan-pecahan piring itu lagi. Aku juga ingin ibu menangis sambil memelukku. Tak lama kemudian, kami pun pulang, dan aku langsung mencari pecahan-pecahan piring yang dibanting ayahku untuk ku hitung.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Pagi itu, aku dibangunkan kakakku. Ku buka mataku dan ku tatap lekat garis wajah usia mudanya, mimik keras dan tegar tapi mudah rapuh, wajah yang selalu menemaniku di saat semuanya menjadi berubah; wajah yang selalu jujur berkata-kata bila ku bertanya.
“Hei kak, apakah piring-piring itu masih terbang lagi pagi ini?,” tanyaku.
“Hmm…ya! Tapi, kali ini bukan hanya piring. Ayah telah memecahkan TV dan mematahkan dua kursi kayu buatan paman John,” balasnya.
“Berarti, aku tak bisa lagi menonton film favoritku, Tom&Jerry,” ujarku sedih.
“Ya! Untuk sementara ini, kau tak bisa menontonnya. Tapi jangan kau pikirkan hal itu, sobat kecil. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah belajar dan mewujudkan janjimu padaku. Ok?.”
“Ok!,”
“Dan sebagai langkah awal, kau harus ke sekolah pagi ini bukan?” katanya.
“Ya!,” ujarku bersemangat.
“Hmm…Kalau begitu, ayo sudah saatnya kau mandi. Kau mau aku memandikanmu atau kau mau melakukannya sendiri,”
“Aku mau melakukannya sendiri. Tapi, kau juga harus mengawasiku. Jangan-jangan aku salah mengambil pasta gigi seperti kemarin,” ujarku malu-malu, salah tingkah.
“Ok! Aku akan mengawasimu,” balas kakakku disertai senyum di wajahnya.
Aku pun mengguyur tubuhku dengan air hangat yang sudah disiapkan kakakku.
Usai mandi, dia membantuku mengenakan seragam sekolah dan menyediakan semangkuk sereal coklat dan susu sapi murni. Kemudian dia menghantarku menunggu bis sekolah di halaman rumahku. Saat melewati ruang tamu, aku bisa melihat TV besar itu hancur berantakan, dua buah kursi kayu berkaki empat itu sudah patah, dan pecahan-pecahan piring yang berserakan di lantai.
“Jadi, kita tak bisa menonton lagi?,” tanyaku di sela-sela langkah kaki kami menuju halaman.
“Ya, untuk sementara ini kita tak bisa menonton. Tapi, jangan kau pikirkan itu,” jawabnya.
“Apakah itu berarti kau akan membeli TV baru untukku?,” aku bertanya lagi.
(Saat Jamie bertanya tentang hal ini, aku tersentak! Terlalu kaget! Jamie adik kecilku mengatakan hal yang sebelumnya telah ku rencanakan. Ketika TV itu dihancurkan ayah, aku berjanji tuk menggantikannya dengan yang baru, karena Jamie. Dan aku tak berniat mengatakan hal ini padanya. Biarlah itu menjadi kejutan untuknya saja. Tapi, terlambat! Dia telah mengetahuinya, hanya dengan otak 8 tahun-nya, dan itu membuatku tak habis pikir!)
“Ehhmm…a…a…Ya! Tapi, bagaimana kau tahu? Aku kan tidak mengatakannya padamu!” ujarnya terbata-bata.
“Tidak. Sebenarnya aku tidak tahu. Aku hanya berkata saja apa yang ku pikirkan,” jawabku.
Kami pun terdiam untuk beberapa saat lamanya. Bisa ku lihat detak jantung di dadanya bergetar tak karuan. Dia mungkin saja bingung setelah apa yang ku katakan barusan. Tapi, aku kan cuma mengatakan apa yang ku pikirkan!
(Jamie begitu acuh dan tak peduli jika ucapan yang disemburkannya padaku, membuat otakku tak karuan memikirkannya. Aku bingung! Dari mana ia memperoleh semua itu! Sebesar apakah pikirannya hingga bisa mengetahui apa yang ku pikirkan? Ahh…Jamie…kau membuatku tak mampu menjawabnya!)
Kakakku masih menemaniku menunggu bis sekolah yang akan aku tumpangi.Kami duduk di ayunan milikku, yang dibelikan kakak saat usiaku 5 tahun.
Beberapa menit kemudian, bis sekolah yang aku tunggu sampai juga. Sopirnya Tuan Thomas, tuan yang sering membelikan permen karet untukku dan sering menyapaku dengan sebutan si mata biru.
“Hei Jamie, apa kabarmu sobat kecilku, si mata biru?” sapa tuan Thomas sambil tersenyum ketika aku bergegas naik bis dengan warna kuning bergaris putih itu.
“Aku baik-baik saja tuan Thomas. Tapi, aku tak melihat Billy. Apa dia tidak masuk sekolah hari ini?” tanyaku.
“Ya, benar! Billy sedang sakit. Jadi, dia tak masuk sekolah hari ini,” jawab tuan Thomas.
“Bisakah aku berdoa untuknya tuan Thomas?” ujarku.
“Aku akan sangat senang bila kau melakukannya. Tapi, mengapa kau mau berdoa untuknya?”
“Sebenarnya aku tak bermaksud apa-apa,” ujarku sembari menunduk. “Aku hanya mau berdoa untuknya agar jika suatu saat nanti giliran aku yang sakit, Billy juga mau berdoa untukku,” sambungku.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Pria itu lalu tersenyum. Bisa ku lihat, air mata menggenang di wajahnya. Rasa haru dan semangat yang menggebu-gebu terpancar dari wajah pria berumur 30-an tersebut. Aku pun begitu. Aku tak punya alasan lain untuk membanggakan Jamie, adikku pagi itu. Alasannya hanya satu. Pria itu, terharu karena Jamie mau berdoa untuk anaknya, Billy, teman sekelas Jamie yang sedang sakit. Hanya itu! Tak lebih!
Bis itu pun melaju, diiringi lambaian tangan Jamie dan senyum kecil di balik tatapan bola mata biru miliknya, saat embun masih menempel di kaca jendela mobil berwarna kuning dan bentuknya yang panjang itu. Aku pun tak tahu, bila lambaian dan senyum itu, adalah hal terindah dan yang terakhir ku lihat di balik wajah adikku itu, karena selang beberapa jam kemudian, Jamie harus dilarikan ke Rumah Sakit. Dia akhirnya divonis dokter menderita leukimia ganas, dan tak ada harapan lagi untuk sembuh.
Sejak itulah, Jamie membawa perubahan dalam keluarga kami. Pecahan-pecahan piring yang dihitungnya, dan sejumlah percakapan menarik yang selalu penuh makna, harapannya tuk melihat ayah dan ibuku kembali seperti dulu lagi terjawab sudah walau akhirnya Jamie harus membayarnya dengan mahal. Bahkan, semenjak Jamie masuk rumah sakit, aku sering meneteskan air mata ketika ku lihat tubuh sobat kecilku itu tergolek lemah tak berdaya, menunggu ajal tuk menjemputnya ditemani sejumlah jarum suntik dan kerasnya obat-obat yang harus dikonsumsi Jamie demi memperpanjang hidupnya walau hanya sebentar saja.
Bersambung
“Vanjer”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar