Kisah Penantian Musim Dingin Bulan November….
Posted on Jumat, 01 Juli 2011
Aku menangis ketika cinta tergolek lemah dan meratap. Bahkan ia mengiba padaku untuk memeluknya dan memberi kehangatan dalam dinginnya hatiku. Perlahan ku peluk dirinya dan di sana kami menangis. Ia sekarat karena aku tak mampu memberinya ruang yang cukup untuk menari. Aku tak mampu memberinya waktu dan saat untuk bersenandung.
Dalam kesakitannya ia mengisahkan kenangan indah antara aku dan dirinya yang pernah ada. Ia menuturkan indahnya pohon badam di bulan Nisan saat rembulan jadi saksi cinta kami, indahnya kota atlantis dan firdaus yang tak mampu dijelaskan logika dan matematika. Ia masih saja berkisah meski ku meminta untuk tidak lagi bercerita. Ia tersenyum sambil menatapku, tatapan kasih dalam kisahnya. Sesekali ia meringis menahan sakit. Ku tahu ia berjuang menuturkan kisah kami dan ia takkan berhenti sebelum terselesaikan. Ia masih bercerita dan “Kisah inilah yang takkan pernah ku lupa”, isaknya….
“Kala itu 20 tahun silam, kita bertemu di tepi sungai Piedra, kau tidak seperti sekarang. Kita berdua saling merindu dan banyak tempat kita singgahi bersama. Aku masih ingat tempat-tempat itu. Padang ilalang berhiaskan kicauan burung malam, di taman kota di belakang patung perjuangan sang penyair reformasi, di jembatan beton tua kota lama, serta di sebuah tempat duduk di batas kota. Di tempat itu kau mendekapku dalam dinginnya musim salju tanda lahirnya bunga-bunga anemon. Aku masih ingat….Kau pernah membawakanku setangkai bunga anemon dan kau katakan janji setiamu… Kekasihku, aku berjanji, kisahku akan berakhir tanpa kasihmu dan kisah kita berdua takkan berakhir tanpa kasih… Aku tersenyum dan kau memeluk aku sembari berkata : “Apakah kekasihku mau minum segelas kopi hangat?” tanyamu, dan ku jawab : “Ya… Kenapa tidak”, jawabku sembari tersenyum. Kisah itu kekasihku…. Akan terus ku bawa selamanya”
Saatnya pun tiba… Ia pergi untuk selamanya dalam dekapan penyesalanku. Ku panggil namanya untuk terakhir kali dan ia menjawab, “Ya kekasihku sudah saatnya aku pergi. Jangan menangis lagi karena tangisan tidak merubah takdir dan ajal. Jangan menyesal karena penyesalan tidak merubah waktu dan saat… Aku akan kembali tanpa kau sadari. Jika kau bertemu denganku yakinkan aku bahwa kisah mekarnya pohon badam di bulan Nisan, indahnya tepian sungai Piedra, rembulan malam di padang ilalang, jembatan beton tua kota lama, taman kota bunga anemon dan tempat duduk di batas kota adalah kisah masa lalu kita yang terus abadi selama dunia ini masih berputar….
Akhirnya ia pun pergi dalam senyuman manis di bulan November di saat tumbangnya rezim tradisionalisme dan bangkitnya vandalisme politik era modernisme.
Aku tertunduk dan menangis, tangisan sendu yang tak mampu dibayar oleh apapun dan siapapun. Ku kutuk hati dan jiwaku, juga roh dan nalarku. Ku peluk dan ku bisikkan permohonanku agar ia kembali. Ku goncangkan tubuhnya sembari memberinya kehangatan, namun terlambat. Ia terlampau terlelap dalam keindahan kesunyian alam maut….
Ku rebahkan tubuhnya di pelataran, sambil menatap wajah yang beku itu. Ada kedamaian utuh yang tersirat yang hanya bisa dilihat dalam rinai kepedihan.
Derasnya hujan membasahi tubuhku yang terbungkus megahnya gaun perkabungan. Hatiku berkabung, jiwa dan rohku mengaum namun hanya bisa didengar oleh rumput liar dan angin yang berhembus menghadiri upacara itu….
Cinta telah pergi, dan meninggalkan goresan pedih bagi hati…Yang tertinggal hanya sebuah nisan dan timbunan tanah tempat peristirahatan terakhir cinta yang pernah menggores hati dan menaklukkan jiwaku.
Kini aku tak punya cinta lagi semenjak 15 tahun berlalu…
Bahkan rasaku dapat ku katakan mati
Sesal dan kecewa hanya dapat ku tahan dengan hiasan senyum di wajahku. Memang dia belum kembali. Kisahku itu masih tersimpan rapih, ibarat cetakan biru berlamping penantian. Tapi aku yakin suatu saat kisah pohon badam dapat ku ceritakan lagi, dan indahnya tepian sungai Piedra dapat ku curahkan lagi…
Kemarin sore aku duduk sembari berdoa “Cintaku…kembalilah… Pohon badam itu menunggu kita, dan sungai Piedra masih menanti. Padang ilalang itu masih ada, dan taman kota bunga anemon merindukan hadirmu. Jembatan tua kota lama masih seperti yang dulu, dan tempat duduk di batas kota tetap setia menunggumu….. (by: Man With Thousand Dreams)
Label:
1


Tidak ada komentar:
Posting Komentar