“Hei kak, aku punya permintaan. Bisakah kau mengantarku ke kamar ayah dan ibu? Aku ingin tidur bersama mereka,” pinta Jamie.
“Ok. Ayo… Mari kita pergi,” jawabku.
Aku tak punya firasat apa-apa. Apalagi sampai menyatakan dengan pasti bahwa saat itu peri maut akan menjemputnya sebentar lagi. Aku pikir dia hanya ingin tidur saja bersama ayah dan ibu. Sampai di depan pintu kamar mereka, aku mengatakan pada ayah jika Jamie ingin tidur bersama mereka. Ku bantu merebahkan Jamie di tempat tidur mereka. Dia terlihat nyaman. Aku pun hendak beranjak kembali ke kamarku, tapi Jamie menolaknya.
“Ayah… Ibu…bisakah kakak tidur bersama dengan kita?,” mohonnya.
“Baik…dia bisa tidur dengan kita,” seru ayah.
Seketika itu juga, tangis kami pun pecah. Ku lihat ayah dan ibu menangis sambil memeluk tubuhnya tanpa ingin melepasnya lagi. Dasar Jamie…bukannya turut menangis, dia malah melongo, bingung dengan tindakan kami.
“Mengapa kalian menangis? Aku hanya ingin kita tidur bersama. Tapi, jika itu membuat kalian sedih aku bisa tidur di kamarku sendiri,” ujar Jamie sembari tersenyum, seakan tak pernah merasa sakit. Dia tetap bersemangat sama seperti dahulu, sambil terus menghadiahi pikiran kami dengan pertanyaan-pertanyaan rumit dan menggemaskan. Ahh…Jamie…
“Nak…ayah mohon jangan pergi. Ayah masih punya hutang yang belum ayah lunasi padamu. Kau ingat bukan? Lagipula kau sudah berjanji pada ayah takkan pergi dan akan tetap tinggal bersama-sama dengan ayah, ibu serta kakakmu,” kata ayahku.
“Siapa bilang aku akan pergi? Memangnya aku mau pergi ke mana? Aku hanya ingin kita tidur bersama,” senyumnya merekah di balik wajah pucat, kulit bungkus tulang, tanpa bertanya lebih lanjut lagi, apa dan di mana dia akan pergi. Ayah pun terdiam, sambil sesekali menahan isak tangisnya. Sedangkan ibu…tak ada sepatah kata pun terucap. Suara merdu ibu yang biasa ku dengar menyanyikan lagu untuk Jamie bagai hilang direnggut secara paksa oleh takdir dan nasib Jamie adik lelakiku.
Kami pun tidur bersama. Aku dan Jamie berada di tengah diapit ayah dan ibu. Beberapa menit kemudian Jamie meraih tangan kami semua, dan didekapnya pada dada kecil yang tinggal menghitung waktu saja, terdiam dalam kebisuan panjang.
“Setidaknya, aku merasa baikkan sekarang,” ujar Jamie lemas.
Dan tepat pada pukul 05.00 am. Jamie pergi… Jantungnya berhenti berdetak dan tangan kami adalah saksinya. Senyum masih mengembang di bibirnya seakan meminta kami tuk mengerti kepergian Jamie takkan lama. Namun, apalah daya kami. Toh masa itu akan lebih indah bila ada Jamie.
Ku bopong tubuh kecil Jamie, dan berlari keluar. Ku baringkan dia pada pangkuanku sambil duduk di ayunan kecil miliknya yang ku beli beberapa tahun yang lalu. Ku duduk dengannya sekitar beberapa jam lamanya hingga mentari terbit dan menyinari tubuh kecil Jamie dengan kehangatan sinarnya. Perasaanku berkecamuk, sedih, marah, kecewa dan lain sebagainya. Ku lihat ayah mencoba mendekat tuk hendak mengambil tubuh Jamie dariku. Saat itu, akal sehatku musnah. Yang ada hanya angkara murka, dendam yang luar biasa besarnya. Tanpa berpikir pria tua itu ayahku, ku teriakkan namanya dengan lantang….
“Hei…pria tua yang tak tahu diri!!!! Aku bersumpah demi Tuhan…Jika kau sentuh Jamie adikku, aku akan membunuhmu…Jangan sentuh dia!!! Kau tak pernah menyayanginya. Kau tak berhak merasa kehilangan Jamie! Aku yang paling berhak merasa kehilangan! Dasar bangsat!,” ku maki ayahku sambil menangis. Dia hanya diam, tertunduk, lesu dan tak berdaya. Dia pun tak menyentuh Jamie. Dia hanya berdiri sambil menatapku membopong tubuh kecil Jamie masuk ke dalam rumah tuk dimandikan.
Jamie pun pergi tuk selamanyadalam balutan musim dingin yang begitu menusuk. Dia tak meninggalkan apa-apa selain kenangan manisnya saat aku bercakap-cakap dengannya, saat ia mengumpulkan pecahan piring kaca dan saat diungkapkannya cita-citanya tuk membuat piring kaca anti pecah jika ayah membantingnya lagi. Percakapan penuh makna itu tak ada lagi, juga tatapan bola mata biru yang tajam dan menusuk itu. Sejak Jamie pergi, hubunganku dengan ayah pun memburuk. Aku memutuskan untuk tinggal di kota lain jauh dari rumah. Aku tak pernah bicara lagi dengan ayah. Meskipun demikian, aku selalu mengirim uang untuk ibu agar bisa dipergunakan mereka sehari-hari. Apalagi, ibu sementara hamil muda, semenjak Jamie mulai sakit-sakitan. Aku masih terpukul dengan kepergian Jamie dan entah berapa lama kan berakhir.
Enam bulan berlalu, aku masih tetap sama. Bahkan sesekali aku menangis di kuburnya. Bisa ku dengar dengan jelas, ucapan-ucapan Jamie di kenanganku dan celoteh-celoteh berharganya yang selalu membuatku terperanggah. “Jamie…Hei adikku, bisakah kau kembali untukku? Mana janjimu? Katanya kau pergi hanya sebentar saja. Tapi ini sudah enam bulan!,” kalimat itulah yang terus ku ucap selama 6 bulan, jika ku ingat dirinya. Bisa dikatakan, itu mungkin sebaris doa yang bisa ku panjatkan pada Sang Penguasa di atas sana.
Satu bulan berlalu setelah enam bulan masa-masa sulit itu, ibu melahirkan bayi laki-laki sehat dan kuat berambut merah. Ayah-lah yang mengabariku, dan aku akhirnya menjenguk ibu. Tak lupa aku singgah tuk membayar biaya RS-nya. Bayi itu cukup besar, dengan bobot 5-6 kg. “wow… apakah dia nanti seperti Hercules?,” gumamku dalam hati. Ku lihat dia tertidur pulas di dada ibu, dan terlihat lelah menempuh perjalanan panjang. Perlahan-lahan ayah menghampiriku, menggenggam tanganku sambil berkata.
“Nak…Ayah tahu ini cukup sulit bagimu. Ayah juga tahu tak segampang itu kau memaafkan ayah karena kepergian Jamie. Ayah mohon maaf atas semua yang terjadi, dan ayahberniat tuk memperbaikinya. Ayah pun tak memintamu tuk memaafkan ayah secepatnya. Jika kau izinkan, ayah ingin memelukmu sebentar saja, agar ayah yakin kamu pun anak ayah yang ayah kasihi,” kata ayah sambil meneteskan air mata. Aku hanya terdiam, tak bergeming dan masih menatap bayi itu.
“Ayah mengerti jika kau belum siap tuk memaafkan ayah, bahkan untuk memelukmu. Tak apa-apa nak,” ujar ayah kembali. Saat ayah hendak pergi, tiba-tiba saja, ku panggil namanya…
“Hei ayah…kau pria tua yang sangat keras kepala dan cukup jantan tuk mengakui kesalahanmu. Karena hal itu, aku tak punya alasan lain lagi tuk memarahimu lagi,” balasku sambil menatap garis wajah keras miliknya. Ayah akhirnya berjalan menghampiriku, memelukku dan akhirnya kami berdua pun meneteskan air mata disaksikan ibu yang tersenyum sambil terisak.
Lahirnya adik keduaku secara serentak merubah keadaan keluarga kami. Ibu masih diberi kesempatan untuk beristirahat beberapa hari lagi guna memulihkan kondisinya. Aku pun secara rutin membesuk ibu di RS sepulang kerja walau perjalanan yang aku tempuh cukup jauh. Beruntung saja aku sudah punya mobil sendiri, jadi tak repot bila harus pulang-pergi. Kadang-kadang juga aku bermalam di RS sambil menjaga ibu bersama dengan ayah. Dua minggu berlalu tiba saatnya ibu pulang. Aku menggendong adik kecilku itu sedangkan ayah membereskan barang ibu. Aku bermain-main dengannya di tempat duduk, mencoba menelisik garis wajahnya. Aku tersentak ketika wajah mungil adik kecil baruku yang belum dinamai itu memiliki kemiripan dengan Jamie. Jantungku berdebar tak karuan ketika ku lihat ada tanda lahir di belakang telingan sebelah kanannya persis seperti milik Jamie; di tempat yang sama pula. Masih belum cukup! Beberapa menit kemudian, bayi itu menangis dengan kerasnya hingga ibu bergegas tuk mengambilnya dariku. Mungkin saja ia lapar. Tapi ternyata tidak! Bayi itu baru membuka matanya. Ketika tangisnya mereda, ku gendong lagi adik kecilku itu dan melihat bola mata itu…bola mata milik Jamie yang aku rindukan selama ini. Bola mata biru yang tajam dan menusuk itu menatapku tak bergeming, melumat habis wajahku dalam tatapannya. Aku tertawa, dan tak percaya jika hal ini terjadi. Aku pun ragu, apakah ia benar-benar Jamie atau tidak. Aku tak percaya reinkarnasi atau kelahiran kembali atau apalah namanya. Tapi aku sadar, ia memang Jamie yang dulu, tanpa penyakit, sehat, kuat dan cerdas. Menyadari hal itu, ayah langsung menamainya Jamie. Sambil berkata… “Selamat datang Jamie, kami telah menunggumu!!!,” ujar ayah terbata-bata; bahagia !
Aku pun demikian. Bahkan aku lebih bahagia dari ayah. Kebahagiaanku terasa lengkap ketika ku lihat Jamie kecilku yang baru, bertumbuh persis seperti Jamie-ku yang dulu. Saat itu aku sadar, Tuhan atau Siapa pun di atas sana, telah memberi Jamie kembali pada kami. Ku tatap langit saat gumpalan cirrus bersatu dengan altokumulus di penghujung pagi. Aku tersentuh saat awan itu berganti rupa menjadi gumpalan kumulusnimbus, membentuk sebuah tangan yang sedang memberkati kami.
“Terima kasih Tuhan…Sekali lagi terima kasih…Otakku tak mampu memikirkan kata lain yang lebih hebat lagi selain kata terima kasih untuk ku panjatkan pada-Mu,” ujarku.
TAMAT
“Vanjer”
“Ok. Ayo… Mari kita pergi,” jawabku.
Aku tak punya firasat apa-apa. Apalagi sampai menyatakan dengan pasti bahwa saat itu peri maut akan menjemputnya sebentar lagi. Aku pikir dia hanya ingin tidur saja bersama ayah dan ibu. Sampai di depan pintu kamar mereka, aku mengatakan pada ayah jika Jamie ingin tidur bersama mereka. Ku bantu merebahkan Jamie di tempat tidur mereka. Dia terlihat nyaman. Aku pun hendak beranjak kembali ke kamarku, tapi Jamie menolaknya.
“Ayah… Ibu…bisakah kakak tidur bersama dengan kita?,” mohonnya.
“Baik…dia bisa tidur dengan kita,” seru ayah.
Seketika itu juga, tangis kami pun pecah. Ku lihat ayah dan ibu menangis sambil memeluk tubuhnya tanpa ingin melepasnya lagi. Dasar Jamie…bukannya turut menangis, dia malah melongo, bingung dengan tindakan kami.
“Mengapa kalian menangis? Aku hanya ingin kita tidur bersama. Tapi, jika itu membuat kalian sedih aku bisa tidur di kamarku sendiri,” ujar Jamie sembari tersenyum, seakan tak pernah merasa sakit. Dia tetap bersemangat sama seperti dahulu, sambil terus menghadiahi pikiran kami dengan pertanyaan-pertanyaan rumit dan menggemaskan. Ahh…Jamie…
“Nak…ayah mohon jangan pergi. Ayah masih punya hutang yang belum ayah lunasi padamu. Kau ingat bukan? Lagipula kau sudah berjanji pada ayah takkan pergi dan akan tetap tinggal bersama-sama dengan ayah, ibu serta kakakmu,” kata ayahku.
“Siapa bilang aku akan pergi? Memangnya aku mau pergi ke mana? Aku hanya ingin kita tidur bersama,” senyumnya merekah di balik wajah pucat, kulit bungkus tulang, tanpa bertanya lebih lanjut lagi, apa dan di mana dia akan pergi. Ayah pun terdiam, sambil sesekali menahan isak tangisnya. Sedangkan ibu…tak ada sepatah kata pun terucap. Suara merdu ibu yang biasa ku dengar menyanyikan lagu untuk Jamie bagai hilang direnggut secara paksa oleh takdir dan nasib Jamie adik lelakiku.
Kami pun tidur bersama. Aku dan Jamie berada di tengah diapit ayah dan ibu. Beberapa menit kemudian Jamie meraih tangan kami semua, dan didekapnya pada dada kecil yang tinggal menghitung waktu saja, terdiam dalam kebisuan panjang.
“Setidaknya, aku merasa baikkan sekarang,” ujar Jamie lemas.
Dan tepat pada pukul 05.00 am. Jamie pergi… Jantungnya berhenti berdetak dan tangan kami adalah saksinya. Senyum masih mengembang di bibirnya seakan meminta kami tuk mengerti kepergian Jamie takkan lama. Namun, apalah daya kami. Toh masa itu akan lebih indah bila ada Jamie.
Ku bopong tubuh kecil Jamie, dan berlari keluar. Ku baringkan dia pada pangkuanku sambil duduk di ayunan kecil miliknya yang ku beli beberapa tahun yang lalu. Ku duduk dengannya sekitar beberapa jam lamanya hingga mentari terbit dan menyinari tubuh kecil Jamie dengan kehangatan sinarnya. Perasaanku berkecamuk, sedih, marah, kecewa dan lain sebagainya. Ku lihat ayah mencoba mendekat tuk hendak mengambil tubuh Jamie dariku. Saat itu, akal sehatku musnah. Yang ada hanya angkara murka, dendam yang luar biasa besarnya. Tanpa berpikir pria tua itu ayahku, ku teriakkan namanya dengan lantang….
“Hei…pria tua yang tak tahu diri!!!! Aku bersumpah demi Tuhan…Jika kau sentuh Jamie adikku, aku akan membunuhmu…Jangan sentuh dia!!! Kau tak pernah menyayanginya. Kau tak berhak merasa kehilangan Jamie! Aku yang paling berhak merasa kehilangan! Dasar bangsat!,” ku maki ayahku sambil menangis. Dia hanya diam, tertunduk, lesu dan tak berdaya. Dia pun tak menyentuh Jamie. Dia hanya berdiri sambil menatapku membopong tubuh kecil Jamie masuk ke dalam rumah tuk dimandikan.
Jamie pun pergi tuk selamanyadalam balutan musim dingin yang begitu menusuk. Dia tak meninggalkan apa-apa selain kenangan manisnya saat aku bercakap-cakap dengannya, saat ia mengumpulkan pecahan piring kaca dan saat diungkapkannya cita-citanya tuk membuat piring kaca anti pecah jika ayah membantingnya lagi. Percakapan penuh makna itu tak ada lagi, juga tatapan bola mata biru yang tajam dan menusuk itu. Sejak Jamie pergi, hubunganku dengan ayah pun memburuk. Aku memutuskan untuk tinggal di kota lain jauh dari rumah. Aku tak pernah bicara lagi dengan ayah. Meskipun demikian, aku selalu mengirim uang untuk ibu agar bisa dipergunakan mereka sehari-hari. Apalagi, ibu sementara hamil muda, semenjak Jamie mulai sakit-sakitan. Aku masih terpukul dengan kepergian Jamie dan entah berapa lama kan berakhir.
Enam bulan berlalu, aku masih tetap sama. Bahkan sesekali aku menangis di kuburnya. Bisa ku dengar dengan jelas, ucapan-ucapan Jamie di kenanganku dan celoteh-celoteh berharganya yang selalu membuatku terperanggah. “Jamie…Hei adikku, bisakah kau kembali untukku? Mana janjimu? Katanya kau pergi hanya sebentar saja. Tapi ini sudah enam bulan!,” kalimat itulah yang terus ku ucap selama 6 bulan, jika ku ingat dirinya. Bisa dikatakan, itu mungkin sebaris doa yang bisa ku panjatkan pada Sang Penguasa di atas sana.
Satu bulan berlalu setelah enam bulan masa-masa sulit itu, ibu melahirkan bayi laki-laki sehat dan kuat berambut merah. Ayah-lah yang mengabariku, dan aku akhirnya menjenguk ibu. Tak lupa aku singgah tuk membayar biaya RS-nya. Bayi itu cukup besar, dengan bobot 5-6 kg. “wow… apakah dia nanti seperti Hercules?,” gumamku dalam hati. Ku lihat dia tertidur pulas di dada ibu, dan terlihat lelah menempuh perjalanan panjang. Perlahan-lahan ayah menghampiriku, menggenggam tanganku sambil berkata.
“Nak…Ayah tahu ini cukup sulit bagimu. Ayah juga tahu tak segampang itu kau memaafkan ayah karena kepergian Jamie. Ayah mohon maaf atas semua yang terjadi, dan ayahberniat tuk memperbaikinya. Ayah pun tak memintamu tuk memaafkan ayah secepatnya. Jika kau izinkan, ayah ingin memelukmu sebentar saja, agar ayah yakin kamu pun anak ayah yang ayah kasihi,” kata ayah sambil meneteskan air mata. Aku hanya terdiam, tak bergeming dan masih menatap bayi itu.
“Ayah mengerti jika kau belum siap tuk memaafkan ayah, bahkan untuk memelukmu. Tak apa-apa nak,” ujar ayah kembali. Saat ayah hendak pergi, tiba-tiba saja, ku panggil namanya…
“Hei ayah…kau pria tua yang sangat keras kepala dan cukup jantan tuk mengakui kesalahanmu. Karena hal itu, aku tak punya alasan lain lagi tuk memarahimu lagi,” balasku sambil menatap garis wajah keras miliknya. Ayah akhirnya berjalan menghampiriku, memelukku dan akhirnya kami berdua pun meneteskan air mata disaksikan ibu yang tersenyum sambil terisak.
Lahirnya adik keduaku secara serentak merubah keadaan keluarga kami. Ibu masih diberi kesempatan untuk beristirahat beberapa hari lagi guna memulihkan kondisinya. Aku pun secara rutin membesuk ibu di RS sepulang kerja walau perjalanan yang aku tempuh cukup jauh. Beruntung saja aku sudah punya mobil sendiri, jadi tak repot bila harus pulang-pergi. Kadang-kadang juga aku bermalam di RS sambil menjaga ibu bersama dengan ayah. Dua minggu berlalu tiba saatnya ibu pulang. Aku menggendong adik kecilku itu sedangkan ayah membereskan barang ibu. Aku bermain-main dengannya di tempat duduk, mencoba menelisik garis wajahnya. Aku tersentak ketika wajah mungil adik kecil baruku yang belum dinamai itu memiliki kemiripan dengan Jamie. Jantungku berdebar tak karuan ketika ku lihat ada tanda lahir di belakang telingan sebelah kanannya persis seperti milik Jamie; di tempat yang sama pula. Masih belum cukup! Beberapa menit kemudian, bayi itu menangis dengan kerasnya hingga ibu bergegas tuk mengambilnya dariku. Mungkin saja ia lapar. Tapi ternyata tidak! Bayi itu baru membuka matanya. Ketika tangisnya mereda, ku gendong lagi adik kecilku itu dan melihat bola mata itu…bola mata milik Jamie yang aku rindukan selama ini. Bola mata biru yang tajam dan menusuk itu menatapku tak bergeming, melumat habis wajahku dalam tatapannya. Aku tertawa, dan tak percaya jika hal ini terjadi. Aku pun ragu, apakah ia benar-benar Jamie atau tidak. Aku tak percaya reinkarnasi atau kelahiran kembali atau apalah namanya. Tapi aku sadar, ia memang Jamie yang dulu, tanpa penyakit, sehat, kuat dan cerdas. Menyadari hal itu, ayah langsung menamainya Jamie. Sambil berkata… “Selamat datang Jamie, kami telah menunggumu!!!,” ujar ayah terbata-bata; bahagia !
Aku pun demikian. Bahkan aku lebih bahagia dari ayah. Kebahagiaanku terasa lengkap ketika ku lihat Jamie kecilku yang baru, bertumbuh persis seperti Jamie-ku yang dulu. Saat itu aku sadar, Tuhan atau Siapa pun di atas sana, telah memberi Jamie kembali pada kami. Ku tatap langit saat gumpalan cirrus bersatu dengan altokumulus di penghujung pagi. Aku tersentuh saat awan itu berganti rupa menjadi gumpalan kumulusnimbus, membentuk sebuah tangan yang sedang memberkati kami.
“Terima kasih Tuhan…Sekali lagi terima kasih…Otakku tak mampu memikirkan kata lain yang lebih hebat lagi selain kata terima kasih untuk ku panjatkan pada-Mu,” ujarku.
TAMAT
“Vanjer”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar