(This Writting Is Completely Fictional, Not Based On True Story)
Maaf...mungkin aku terlalu berani...menuliskan beberapa buah noktah
asmara tentang kita, ketika semua yang kita jalani terasa seperti
kitalah sang pemilik 'The Milky Way'. Padahal sebelumnya, aku dan kamu
seperti tabula rasa. Tak ada tamparan-tamparan halus di dada yang
dinamakan getar itu, atau pun semacam koneksi telepati bahwa rasaku
adalah rasamu juga...Hmm...Sepertinya aku bisa berpikir bahwa bahkan
waktu pun tak bisa menjawab awal-berawal genggaman tangan kita dan
akhir-terakhir kapan genggaman itu berakhir...
Sungguh...Kebahagiaan
yang tersembunyi....dan begitu indah bila gumpalan otak kecil dan besar
di kepalaku bergemulai bergerak memutar kembali rekaman-rekaman
dokumenter tentang kita. Rekaman yang layak disebut indah namun tak
gampang menyeruak dari balik penjara hati...Rekaman yang sejujurnya
menghadiahi nalarku dengan konsekuensi bahwa ternyata tak bisa ku
genggam tanganmu dari balik terangnya sinar sang surya sebab ku harus
bersamanya. Ku coba tuk menyelamatkanmu dari beberapa lempeng asmara
yang terus-menerus bergeser ke sini dan bukannya ke pusat rasa yang
seharusnya kau jalani saja. Aku pun sadar aku tak bisa selalu di
dekatmu, namun anehnya aku selalu mencoba tuk menggapaimu; walau waktu
yang kita jalani hanya berkisar kebisuan yang adalah bahasa kita...
Aku
seperti berdiri pada tebing terjal di mana hanya ada satu jalan
melompat dan bukannya merangkak...Tapi meski demikian, aku masih bisa
berenang dalam hati ini demi menggapai lembaran-lembaran usang hingga
'last update' di mana namamu terpatri di sana...Ingin ku katakan padamu
mari genggam tanganku di antara rintihan ketegaran dari balik lensa
bersayap warna kekelaman milikku yang minus 3 setengah kurang lebih;
mengajakmu menjemput rintik hujan dan tersenyum di saat kebasahan
mengguyur tanpa ada pilihan lain selain kecupan dan pelukan...
I
Feel No Air Arround Me !!! bila ku harus melepasmu yang telah sekian
lama terpenjara di dalam sini. Sama halnya tuk mengucap sepenggal kata
'Sudah Selesai'. Aku bahkan tak berniat tuk bertanya pada Sang Khalik
bila faktanya takdirmu bukan mengarah ke sana tapi ke sini....tuk
menemaniku...Harus berapa lama lagi ku terjemahkan rasa ini bila pada
akhirnya kaulah yang terbesit di sana, terhimpit di antara ikatan besi
yang terpasang di jari manis....Harus berapa lama pula ku coret buku
janji setia dengan sejumlah tinta berwarna merah kesumba dengan
namamu?Aku tahu rasa ini menyimpang bila ku harus memaksa situasi
bertekuk lutut karena ku ingin menggapaimu. Tapi, aku tak bisa bertindak
benar bila kenyataannya senyum di bibir bisa merekah karenamu dan jiwa
ini terasa bergejolak bila hadirmu menyelinap masuk tanpa meminta
permisi di ranjang malam...Dan bila ternyata benar bahwa jalinan ini
telah disulam ibunda 'Destiny' mengapa 'Fatality' tak kunjung jua
mengerti?
Tolong...Jangan katakan padaku 'Another Day Is
Better Day' bila esok serasa mati...Jangan katakan padaku bila aku pasti
tahu mana yang benar bila kenyataannya takdirku adalah memilikimu
hei...soneta cinta yang terlarang...Haruskah aku tuk kesekian kalinya
mereka-reka nasib dan memprediksi hubungan kita sementara takdir itu
hanya tersenyum sinis mengejek tingkah laku kita....Atau haruskah ku
memaksa ikatan tuk mengundurkan diri secara terhormat meski kepastiannya
sungguh tidak mungkin? Apa artinya realistis bila takdir kita untuk
bersama menatap rembulan kembar berwarna biru berselimutkan serpihan
aurora di padang belantara keliru dan maka dari itu tak terwujud? Aku
masih mengukir namamu di antara serpihan andromeda dengan izin rantai
nebula walau bukan dirimu yang duduk di sampingku...Aku masih meminta
rembulan biru tuk janganlah terbit dahulu sesuai waktu transformasinya
seturut hukum astrofisika, yang sebenarnya 2-4 tahun sekali karena
jangka waktu itu terlalu cepat dan kau belum di sisiku....Aku pun tak
berniat menghilangkan jejakmu di sela-sela hembusan nafas ini sebab aku
yakin, ini yang terakhir, dan takdir takkan mungkin terjatuh di
kesalahan yang sama...
Missing You
My Beautifull FB Affair
Vanjer

Tidak ada komentar:
Posting Komentar