Dan Piring Itu Terbang Lagi (Part I)

Posted on Kamis, 31 Oktober 2013

 
“Aku bukan Jamie…bocah kecil berumur 8 tahun yang meninggal karena leukimia ganas, di saat status pernikahan ayah dan ibunya dihantam badai pertengkaran hebat dan bahkan perceraian….Aku adalah kakak kandung lelakinya, yang banyak menghabiskan waktu dengannya hingga saat terakhirnya…Dia memberi arti pada hidupku saat karir dan pekerjaanku terancam karena keluargaku kacau balau….Dan kisah ini ku persembahkan untuknya karena dengan kepergian Jamie, adikku, dia telah membuka mataku dan keluargaku akan arti kepasrahan, persatuan dan penantian yang akhirnya berbuah manis dalam rumah kami…Simak kisahnya berikut ini…


Jamie, bocah kecil berumur 8 tahun itu terlihat sehat, dengan senyum lebar diiringi tatapan  bola mata biru yang tajam tapi meneduhkan…Senyum yang tak pernah lelah mengajak setiap mata yang memandangnya, melangkah mendekatinya dan akhirnya terlibat dalam percakapan kecil yang selalu penuh makna. Semuanya terekam dengan jelas di benak kami sebagai keluarganya, dan mereka yang mengenalnya…Hingga semua itu hilang sekejap…

(Untuk bagian pertama ini, sebaiknya ku gunakan Jamie tuk menulis kisahnya). Diandaikan saja, Jamie-lah yang menulis bagian pertama ini.
Tadi pagi aku menghitung pecahan piring yang dibanting ayahku. Sekitar 17 kepingan, bertebaran di lantai rumah kami. Diantaranya, 8 kepingan besar, 4 kepingan dengan ukuran sedang dan 5 kepingan kecil. “Wow…jumlahnya meningkat dibanding sebelumnya,” gumamku. Melihat jumlah yang tak menentu itu, aku bingung. “Mengapa kepingannya tak selalu sama?,” pikirku.
Esoknya ku lihat piring yang sama terbang lagi…menghantam keras tembok kecil di samping tempat cuci piring dan jatuh berkeping-keping, meninggalkan bunyi gemerincing yang masih bergaung jelas di telingaku. Aku pun menghitungnya lagi…dan awal serta akhir yang tak selalu sama persis. “Mengapa harus piring? Kan masih ada gelas dan benda-benda yang lain? Apakah ada piring dengan bahan dasar kaca yang anti pecah bila dibanting ayah?,” otak kecilku berputar memikirkannya.
Satu bulan berlalu, piring itu masih terbang lagi, menghantam tembok, lantai, dan tempat-tempat lain yang bisa disinggahinya. Untuk urusan satu ini ayahku jagonya. Arahnya selalu tepat tak meleset sedikitpun! Dan sekali lagi, pecahan itu terus ku hitung. Jika, ayah hendak melakukannya lagi, aku bisa melihat piring-piring itu kelihatan cemas…menanti ajal menjemput sisi berkilau mereka.
Akhirnya, sekitar 124 pecahan atau kepingan piring yang dibanting ayah terkumpul. Aku pun menyimpannya ibarat mainan, dalam karton bekas, pembungkus mobil mainanku yang dibeli ayah beberapa bulan lalu untukku. Jika ku hitung, ada sekitar 62 piring utuh, yang berhasil dihancurkan ayahku.
Entah mengapa situasi itu membuat kakak lelakiku jarang tinggal di rumah. Dia banyak menghabiskan waktu di luar, menekuni pekerjaannya sebagai seorang koordinator lapangan di sebuah perusahaan. Entah mengapa pula, dari peristiwa itu, hampir tiap malam ku dengar ibu menangis terisak dalam tangisan sendu, seakan meminta bantuan Tuhan atas tragedi ini.


Hal serupa pun dialami kakakku. Dia sering terlihat muram, dan bahkan sesekali meneteskan air matanya jika melihatku, membawaku menjauh saat perang dunia ke III, ke IV, ke V dan seterusnya berkecamuk di rumahku. Aku pun hanya bisa menatapnya dan bertanya.

“Hei..Kak…Apakah piring-piring di rumah kita akan habis? Nanti kita makan pakai apa?,” ujarku.
Dia pun tersenyum dan cukup tertawa terbahak-bahak saat ku sodorkan pertanyaan itu. Aku pikir setidaknya aku berhasil menghiburnya…

“Jika aku besar nanti, aku akan membuat piring kaca yang anti pecah bila dibanting ayah lagi,” sahutku kemudian.
“Baik…Cepatlah besar dan buktikan itu padaku. Ok?,” balas suara serak-serak basah milik kakakku itu, yang akhirnya ku jawab dengan anggukan kepala tanda setuju.

Beberapa bulan berlalu, perang masih berkecamuk yang sepertinya takkan pernah usai. Aku pun tak tahu lagi harus menyimpan di mana pecahan-pecahan piring yang selesai ku hitung itu, sebab beberapa box kecilku sudah ku pergunakan…. “Haruskah aku kuburkan saja? Hmm…sepertinya ide itu yang sempat aku pikirkan.
Aku pun berlari menuju garasi milik ayahku, mengambil sekop kecil milikku, yang biasa ku pergunakan bila ayah mengajakku menemaninya membuat lubang di tanah. Dengan berbekal metode sederhana hasil ajaran ayahku, aku pun berhasil membuat sebuah lubang kecil di samping rumahku, dan ku kuburkan pecahan-pecahan piring itu di sana.
Esoknya pun masih sama….dan piring itu masih terbang lagi…..

Bersambung
“Vanjer”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar