![]() | |
| Google Images |
Ruang bawah tanah ini begitu gelap. Hanya beberapa berkas cahaya samar-samar pijar lampu halogen yang ditembakkan bermacam-macam kendaraan roda dua dan empat dari luar sana; tepatnya dari gugusan aspal yang disebut jalan raya itu. Belum lagi ada beberapa lembar suasana hati yang patut dikategorikan “lezat” karena berhasil menjengkelkan sekaligus menggelikan. Tentunya lembaran-lembaran itu berasal dari beberapa pertanyaan yang hingga detik ini belum mampu ku jawab. Mau tahu? Pertanyaan tentang kiamat yang katanya akan terjadi pada tanggal 20 Desember 2012 menurut informasi yang dirangkum beberapa ahli semitik sewaktu membaca tata letak Stupa-stupa di Candi Borobudur, atau menurut ramalan kalender jangka panjang kuno yang disusun seorang kesatria jaguar, juga pandai membaca pergerakan bintang-bintang Bangsa Toltec pada peradaban Aztec kuno. Katanya, kiamat atau yang disebut “Nasib Tragis Tula” akan terjadi pada 21 Desember 2012. Berapa pun tanggalnya yang pasti kiamat akan terjadi tahun ini bulan Desember.
Benarkah kiamat akan terjadi? Pertanyaan klasik yang sering ku dengar menyeloroh keluar dari bibir manusia-manusia zaman sekarang. Bisa ku lihat pula ada ketakutan dan kecemasan yang dipalsukan dengan ketegaran, sesaat ketika beberapa suara dari seberang meja menyodorkan pertanyaan menggigit, “Bagaimana jika ramalan itu benar”…Dan serentak saja pria dengan lekukan wajah oval, berkacamata tebal dengan gagang roddenstock, separuh baya, yang sedang ‘asyik-masyuk’ membaca dunia dalam Koran angkat suara yang katanya “Saya akan menghabiskan waktu dengan keluarga saya”…Tak tinggal diam…beberapa ibu muda yang kelihatan ‘genit’ pun berkumandang…”Aku mau setia”… Lalu ada juga pria dan wanita kesepian yang statusnya masih aktif berkelana di dunia jomblo menimpali…”Jangan dulu aku/kami belum berkeluarga”….(Hmm…kasihan dan cukup memiriskan bila hal itu terjadi! Ujarku membatin). Lalu, bagaimana denganku? Apa pendapatku? Belum ku jawab karena belum ku pikirkan…Tapi pasti akan ku jawab ! Akhirnya ku melangkah dengan gontai keluar dari ruangan tersebut sambil ‘cengar-cengir’ memikirkan tingkah laku dan jawaban orang-orang yang ku dengar tadi. Dramatis!
Aku melangkah menyusuri jalan kecil berlapis dedaunan kering yang jatuh berserakan, memberi kesan negatif di benakku, jalan itu begitu kotor…Sesekali ku tatap langit mencoba menerawang gumpalan Siro-Stratus di atas kepalaku yang mulai bergerak dilematis, merasakan gugusan bintang yang terpisah sekian ratus juta tahun cahaya dari tempatku berpijak. Akankah masih ada warna biru di atas sana bila kiamat terjadi nanti…Aku masih berjalan, melangkah di bawah kolong langit, sambil mengisi ruang-ruang penglihatan dengan fenomena dunia dan alam sekarang ini. Sesekali ku membatin…”Setidaknya penglihatan ini bisa menjadi kenangan, bila itu terjadi”. Ya…Biarlah kenangan ini ku simpan dan kalau mungkin akan ku putar kembali tuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa dunia ini pernah ku tinggali dan menjadi bagian di dalamnya.
Lama melangkah, tiba jualah raga ini di tempat tujuan. Bangunan sederhana yang nampak seperti kerajinan tangan (handicraft) produk dalam negeri itu terlihat eksotik dengan dua kata yang terpatri di atasnya “Ministry Coffe”…Aku pun masuk dan memilih duduk di sebelah kanan ruangan yang mungkin berukuran 8x8 meter saja…Di seberang mejaku duduk seorang pria bule yang ingin menyendiri, terpisah dari rekan-rekan sebangsanya, se-genus-nya dan bahkan se-speciesnya…hehehe….Beberapa dari mereka mencoba mengajak ‘lonely guy’ itu tuk bergabung, tapi usaha mereka hanya dijawab dengan gelengan kepala tanda tidak setuju olehnya…Sesekali dia menoleh padaku sambil melemparkan senyum kecut ketika ujung botol dengan tulisan ‘red vodka’ itu mampir di mulutnya, mengalirkan ‘air keras’ dengan aroma khas, menelusup masuk di kerongkongannya...Bliiizzzz…Aku pun membalas senyumannya dengan senyuman khas “asia” ku..(If you know what I mean… J lol). Beberapa menit kemudian aku pun larut dengan segelas air bening hangat (lumayan keras) dan terlalu sibuk ‘tolah-toleh’ ke kiri dan ke kanan mencoba menyantap habis ruangan itu dalam penglihatanku…”Hmm…Jika kiamat itu terjadi sekarang, tak ada aura negatif yang bermain di hati ini”, sekali lagi aku membatin…
Beberapa menit kemudian aku masih duduk sendiri, begitu pun bule tersebut…lalu tiba-tiba saja alunan lagu terdengar dari bilik remang-remang yang bertakhtakan pijar lampu hemat listrik berwarna merah redup. Simfoni yang terpaksa membuatku tersenyum geli karena lantunan lagu itu sementara mengejekku dan bule tersebut. Bagaimana tidak…kata pertamanya saja berbunyi…
“I don’t like….
To sit alone…dst…” (ahaha)
Aku hampir saja tersedak! Tapi jika ku pikir-pikir aku masih bernasib baik, sebab memang aku datang sendiri dan tak memisahkan diri. Sedangkan si bule itu, langsung saja tersedak sembari tertawa disertai dua penggal makian gratis ala “Europe” dengan huruf pembuka ‘F’ itu. Tawa lepasnya yang tanpa meminta permisi langsung membuat suasana dalam ruangan itu kelihatan hidup karena mereka pun menertawainya… “Damn…I’m Lucky…Because the world has not ended now…hahaha,” semburnya …Sontak saja aku terkejut! Aha…Kiamat lagi…Hmm…sepertinya dunia termakan aksi lempar opini tentang kiamat. Sindrom ini merebak begitu cepat! Bahkan bule pun ikut-ikutan berceloteh soal kiamat walau sebelumnya kata kiamat itu dicaci-maki dulu…hehe…
(Bersambung)
Benarkah kiamat akan terjadi? Pertanyaan klasik yang sering ku dengar menyeloroh keluar dari bibir manusia-manusia zaman sekarang. Bisa ku lihat pula ada ketakutan dan kecemasan yang dipalsukan dengan ketegaran, sesaat ketika beberapa suara dari seberang meja menyodorkan pertanyaan menggigit, “Bagaimana jika ramalan itu benar”…Dan serentak saja pria dengan lekukan wajah oval, berkacamata tebal dengan gagang roddenstock, separuh baya, yang sedang ‘asyik-masyuk’ membaca dunia dalam Koran angkat suara yang katanya “Saya akan menghabiskan waktu dengan keluarga saya”…Tak tinggal diam…beberapa ibu muda yang kelihatan ‘genit’ pun berkumandang…”Aku mau setia”… Lalu ada juga pria dan wanita kesepian yang statusnya masih aktif berkelana di dunia jomblo menimpali…”Jangan dulu aku/kami belum berkeluarga”….(Hmm…kasihan dan cukup memiriskan bila hal itu terjadi! Ujarku membatin). Lalu, bagaimana denganku? Apa pendapatku? Belum ku jawab karena belum ku pikirkan…Tapi pasti akan ku jawab ! Akhirnya ku melangkah dengan gontai keluar dari ruangan tersebut sambil ‘cengar-cengir’ memikirkan tingkah laku dan jawaban orang-orang yang ku dengar tadi. Dramatis!
Aku melangkah menyusuri jalan kecil berlapis dedaunan kering yang jatuh berserakan, memberi kesan negatif di benakku, jalan itu begitu kotor…Sesekali ku tatap langit mencoba menerawang gumpalan Siro-Stratus di atas kepalaku yang mulai bergerak dilematis, merasakan gugusan bintang yang terpisah sekian ratus juta tahun cahaya dari tempatku berpijak. Akankah masih ada warna biru di atas sana bila kiamat terjadi nanti…Aku masih berjalan, melangkah di bawah kolong langit, sambil mengisi ruang-ruang penglihatan dengan fenomena dunia dan alam sekarang ini. Sesekali ku membatin…”Setidaknya penglihatan ini bisa menjadi kenangan, bila itu terjadi”. Ya…Biarlah kenangan ini ku simpan dan kalau mungkin akan ku putar kembali tuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa dunia ini pernah ku tinggali dan menjadi bagian di dalamnya.
Lama melangkah, tiba jualah raga ini di tempat tujuan. Bangunan sederhana yang nampak seperti kerajinan tangan (handicraft) produk dalam negeri itu terlihat eksotik dengan dua kata yang terpatri di atasnya “Ministry Coffe”…Aku pun masuk dan memilih duduk di sebelah kanan ruangan yang mungkin berukuran 8x8 meter saja…Di seberang mejaku duduk seorang pria bule yang ingin menyendiri, terpisah dari rekan-rekan sebangsanya, se-genus-nya dan bahkan se-speciesnya…hehehe….Beberapa dari mereka mencoba mengajak ‘lonely guy’ itu tuk bergabung, tapi usaha mereka hanya dijawab dengan gelengan kepala tanda tidak setuju olehnya…Sesekali dia menoleh padaku sambil melemparkan senyum kecut ketika ujung botol dengan tulisan ‘red vodka’ itu mampir di mulutnya, mengalirkan ‘air keras’ dengan aroma khas, menelusup masuk di kerongkongannya...Bliiizzzz…Aku pun membalas senyumannya dengan senyuman khas “asia” ku..(If you know what I mean… J lol). Beberapa menit kemudian aku pun larut dengan segelas air bening hangat (lumayan keras) dan terlalu sibuk ‘tolah-toleh’ ke kiri dan ke kanan mencoba menyantap habis ruangan itu dalam penglihatanku…”Hmm…Jika kiamat itu terjadi sekarang, tak ada aura negatif yang bermain di hati ini”, sekali lagi aku membatin…
Beberapa menit kemudian aku masih duduk sendiri, begitu pun bule tersebut…lalu tiba-tiba saja alunan lagu terdengar dari bilik remang-remang yang bertakhtakan pijar lampu hemat listrik berwarna merah redup. Simfoni yang terpaksa membuatku tersenyum geli karena lantunan lagu itu sementara mengejekku dan bule tersebut. Bagaimana tidak…kata pertamanya saja berbunyi…
“I don’t like….
To sit alone…dst…” (ahaha)
Aku hampir saja tersedak! Tapi jika ku pikir-pikir aku masih bernasib baik, sebab memang aku datang sendiri dan tak memisahkan diri. Sedangkan si bule itu, langsung saja tersedak sembari tertawa disertai dua penggal makian gratis ala “Europe” dengan huruf pembuka ‘F’ itu. Tawa lepasnya yang tanpa meminta permisi langsung membuat suasana dalam ruangan itu kelihatan hidup karena mereka pun menertawainya… “Damn…I’m Lucky…Because the world has not ended now…hahaha,” semburnya …Sontak saja aku terkejut! Aha…Kiamat lagi…Hmm…sepertinya dunia termakan aksi lempar opini tentang kiamat. Sindrom ini merebak begitu cepat! Bahkan bule pun ikut-ikutan berceloteh soal kiamat walau sebelumnya kata kiamat itu dicaci-maki dulu…hehe…
(Bersambung)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar