Google Images
Ketika tak semestinya engkau hadir, aku takkan pernah menyangka bisa bertahan berjam-jam lamanya di kursi kayu reot milikku, meja dengan beberapa coretan graffiti hasil karya masa mudaku ketika berumur 20-an (sebelum sekarang), ballpoint tua yang selalu setia menemaniku, dan beberapa lembar kertas usang yang terus merayuku tuk mencumbunya dengan goresan-goresan tak bermakna ini…
Dan ketika kau seharusnya hadir…Aku pun takkan pernah menyangka bisa bertahan berjam-jam lamanya, ditemani celoteh riang dan menggelikan karya rekan-rekan sebaya, ataupun dialog membosankan para tetua ‘kampoeng’ yang doyan sekali menasehati anak muda zaman edan ini dengan nasehat-nasehat bijak versi masa lalu mereka alias ‘tempoe doeloe’…
Lalu…Ketika rasa ini tergelitik serentak saja ku bertanya, “Ada Apa Denganku?”… “Lalu, Bagaimana Pula Denganmu?”… Haruskah aku bertingkah seperti para kuli tinta yang doyan ceplas-ceplos menuliskan beberapa untaian aksara menjadi strike news? Ataukah aku harus menuliskan sederet litani rasa… lewat beberapa petak paragraph dengan metode human interest agar digilai banyak orang? Atau haruskah pula ku rangkai prosa-puisi dalam diam guna menyembunyikan rasa seperti yang banyak dipraktekkan jejaka-jejaka muda yang terlalu pengecut tuk menyatakan cinta, sehingga bagi mereka, “Lebih baik bertopeng suka saja, daripada mengungkapkan cinta bila akhirnya ditolak”…
Aku sadar aku bukan an amazing man seperti halnya dirimu yang seringkali disapa an amazing graceseturut tembang rohani-religius yang didalamnya terbesit beberapa jengkal harapan bahwa itu seharusnya menjadi kisah yang Evergreen atau never ending love… Aku pun bukan Si Ningrat yang tidak akan pernah menyerah ke dalam jurang tanpa dasar yang tiba-tiba saja menganga di dekat kakiku…Aku juga tak sekuat alam yang selalu punya cara sendiri untuk mempertahankan diri terhadap derasnya seleksi alam yang dalam tanda petik termasuk kejam…
Ahh…Bagiku cinta ibarat tragedi yang di satu sisi sering membuat jiwa-jiwa tak berpijak pada kenyataan…melanglang buana dalam fantasi dan phantasma romantis langit ke tujuh, padahal faktanya hanya berupa kiasan saja… Dan di lain sisi cinta ibarat kesendirian yang seringkali tak pernah puas dalam keramaian… mengajak jiwa-jiwa beranjak ke pojok ruangan yang gelap dan tersembunyi dan kemudian diam dalam kebisuan atas nama rasa yang bergejolak. Dan lalu, ada kisah yang berputar kembali disusul litani panjang berisi keluhan dan kepedihan atau sesungging senyum yang merekah di balik bibir manusia-manusia zaman sekarang jika rekaman itu berisi film documenter cinta yang membahagiakan…Ahh…Cinta memang adalah kenikmatan yang tak pernah peduli pada waktu dan saat…
Mungkin benar bahwa setiap kisah selalu berakhir di titik yang sama di mana hanya ada dua pilihan. Kekelaman atau kesejatian… Lalu bagaimana menggunakannya? Toh, cinta saja tak cukup mengistirahatkan jiwa dalam kepercayaan atau keyakinan. Cinta saja pula takkan pernah mengajak jiwa menyelimuti rasanya dengan cahaya putih bersih miliknya seperti halnya sihir favorit Harry Potter“Expecto Patronum” bukan?
Jujur saja aku bukan Si Penikmat yang membiarkan diri dalam banyak petualangan cinta dan hubungan asmara yang membahayakan yang tak perlu kau takuti… Aku hanya pria biasa yang belajar terbiasa dengan kebiasaanku saja, dan itu sudah cukup bagiku, tak lebih…Aku pun tak berharap banyak darimu, sebab yang pasti musim semi kan terus berganti dan yang seharusnya mungkin kan berlawanan sebaliknya… Tapi akan lebih baik dan semua kan berjalan semestinya jika ada kamu; Sebab dengan begitu, aku mengerti bahwa hadirmu berarti untukku…
By : Vanjer

Tidak ada komentar:
Posting Komentar