Surat Untuk Partai Politik

Posted on Kamis, 31 Oktober 2013

(Sebuah Kecurigaan Filosofis Dalam Goresan Fiksi)


Partai Politik (Parpol). Membaca dua kata ini, seperti membangkitkan gambaran koridor-koridor dengan dinding-dinding artistik, dan para pejabat bersetelan tuxedo kontemporer, pertemuan rahasia di tengah keramaian, rahasia yang dibisikkan dalam suasana demokratis, percakapan yang sangat rasionalistis, disertai polesan intimidasi yang sangat romantis.

Kata-kata itu menimbulkan kesan alur cerita, penuh tips dan intrik dengan sejuta ketegangan, jalan cerita bagi ratusan skenario yang masih misteri. Kata-kata dan gambaran itu dua kali lipat kuatnya melebihi imajinasi populer ditambah goresan kontemporer, yang didukung kekuasaan birokrat, dipancing dalam atau oleh misteri dan kemewahan yang membalut kabinet dan parlemen.

Kata-kata tersebut seakan menggambarkan dan menegaskan adanya praktek spionase dengan ratusan intelijen multi status, pro dan kontra. Di sampingnya berdiri ruang-ruang futuristik yang penuh agenda, tersusun rapih di atas meja kerja ukiran zaman borjuis abad yang 'kesekian' ini. Jurnal-jurnal dan konferensi-konferensi yang berbuntut perang nalar, lempar opini demi kepentingan politis yang masih misteri pula. Di atas meja kerjanya, berhamburan daftar-daftar pers hingga institusi akademik, dan bahkan kelompok-kelompok diskusi elektronik.

Sibuk...Kesibukkannya tak lekang oleh waktu. Bahkan problem riskan dianggap sebagai stimulus bagi aksi spektakuler selanjutnya. Persepsi dan perspektif yang dibentuk memiliki dasar yang kuat, berbekal ADRT. Walau di balik itu hati nurani dibelenggu, dipenjarakan. Kisahnya akrab sekali dengan kata 'Lengser'. Seakan-akan itu adalah konsekuensi, mirip hasil seleksi alam. Regenerasi pun bermakna ganda. Hanya dua opsi. "Sudah Saatnya" ataukah "Saatnya Disudahi".

Harga sebuah transisi tergantung pada kantong-kantong diplomatik. Negosiasi tak hanya alot bahkan riskan. Seperti "petak umpet" zaman modern yang dibumbui dengan sistem baru "Lempar Handuk". Jika terjebak, banyak yang mendapati diri mereka mengabaikan secangkir kopi Espresso/Capucino dan kue-kue kering demi mencari bantuan untuk menemukan acuan keamanan komunikasi, security defensif dan bahkan ada yang mencari perlindungan di belakang parlemen, kabinet, dan paripurna......

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar