Masih Adakah Senandung Di Balik Derita?

Posted on Kamis, 31 Oktober 2013




Catatan Ringan Tentang Derita
Prolog :
Mengapa bilur terasa menyakitkan…
Atau kepahitan yang masih menempel di serambi rasa?
Dan mengapa pedih terasa perih….
Atau ratapan yang masih bergaung di pojok katastrofa jiwa?

Ketika membaca sepenggal puisi di atas, perasaan saya seperti ‘cenat-cenut’ kata boyband Smash yang lagi naik daun di belantara musik Indonesia. Mungkin karena rasa ini seperti tergelitik, ataukah karena memang baris puisi di atas mendarat tepat pada lempeng pengalaman saya yang masih terus bergeser ke kiri dan kanan seturut ritme hidup saya. Yang pasti, saya pernah mengalami apa yang namanya derita, atau penderitaan; dan ia masih terus mengintip hidup saya.

Memang, yang namanya derita selalu terasa sakit, pedih dan dihiasi dengan ratapan yang dalam. Mereka yang mengalami situasi tersebut kadang kehilangan harapan, terbelit keputusasaan, mengalami situasi yang dalam bahasa saya, saya sebut “romantisme dilemma”. Situasi ini membuat orang tak mampu bangkit, merasa enjoy dalam kebingungan di saat berbagai pilihan baik terpampang jelas di depan mata. Entah karena ia merasa “lebih baik begini daripada begitu” atau bisa juga karena “dilanda keputusasaan yang sangat dalam”. Kepastian hidup terasa sirna, dan bahkan untuk berharap ia tak mampu lagi. Hidup benar-benar gelap dan tak setitik pun bias cahaya menerangi.

Lalu, apakah penderitaan adalah pilihan? Ataukah penderitaan adalah cobaan? Mungkin pertanyaan seperti ini sering terbesit di benak mereka yang menderita. Kesannya seperti ‘mencari-cari siapa yang ada di balik penderitaan mereka’. Jika tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya banyak di antara mereka sepakat tentang pernyataan ini “Jika Tuhan Mahabaik, mengapa kami harus menderita!” Jika sudah begini maka sulit juga tugas para pewarta sabda. Mereka harus meyakinkan dengan baik dan benar makna iman yang terkandung dalam penderitaan.

Bagi saya, penderitaan dan kata kerja Menderita terlalu kompleks untuk dipikirkan dalam kondisi terpuruk, dalam kondisi putus asa. Sebab, intensitas berpikir secara positif mengalami penurunan bila yang bersangkutan (orang yang menderita) terlebih dahulu terbuai dengan rayuan penderitaan. Mohon maaf, saya bukan nabi atau istilah lain yang kurang lebih memiliki makna ke arah itu. Namun, setidaknya, saya berkaca dari pengalaman saya. Selain itu, penderitaan dan kata kerja Menderita juga terlalu dangkal untuk dipikirkan bila mereka yang menderita mengesampingkan sisi pahit penderitaan dengan terlebih dahulu menganggap penderitaan seperti perlombaan atau kompetisi yang harus ditaklukkan, yang harus dikalahkan. Padahal, faktanya, kehidupan tidak selalu baik-baik melulu. Kecewa, putus asa, pengkhianatan (betray) dll adalah bagian dari pengalaman hidup yang bisa berperan sebagai 'penyedap rasa' atau 'pemanis alami' ketika hidup terasa monoton dan sempit.

Namun, bukan hanya itu saja, melainkan, penderitaan dan kata kerja menderita juga terlalu dangkal untuk dipikirkan bila kita sering terpenjara dalam konsep-konsep klasik yang berbau textbook. Padahal, kemampuan berkreasi dan berinovasi yang kita miliki bisa dikembangkan lewat cara-cara sederhana dalam menemukan jawban. Memang, konsep sangat membantu, dan merupakan bagian juga dari pengalaman. Akan tetapi, cukuplah digunakan seperlunya saja. Sebab, pengalaman 'terlempar ke dalam dunia (mengalami dunia secara nyata)' penting juga bagi pendewasaan diri dan pematangan pribadi.

Oleh karena itu, pertanyaan apakah penderitaan adalah pilihan ataukah ujian (cobaan) tidaklah penting. Sebab, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memaknai setiap tetes air mata, dan setiap ratapan di saat menderita. Berkaitan dengan hal ini, mungkin kita bisa belajar dari teori arus listrik pada baterai yang dipasang pada senter. Selalu ada kutub negatif dan kutub positif. Mereka memiliki daya tersendiri, mengalir terpisah satu dengan yang lainnya. Sebab jika dipertemukan, konflik pun terjadi alias korsleting. Tapi, jika terus dihidupkan, daya mereka akan habis dan akhirnya harus diganti baterainya. Mereka butuh 'saklar' untuk menghentikan daya yang terus-menerus mengalir. mereka juga butuh 'manusia' yang tahu kapan jasa mereka bisa digunakan. Memang suatu saat daya mereka akan habis. Tapi tentu saja dalam jangka waktu yang lama. (hmm....lagi-lagi teori...haha)

Apa maksudnya? Pengalaman penderitaan yang dialami harus disikapi secara netral. Sebab, tawa dan air mata selalu datang dan pergi. Kita harus mengerahkan segala kemampuan untuk melihat realitas pengalaman hidup secara netral. Tidak berat sebelah, tidak memihak opsi A atau B. Bila penderitaan menghampiri, hadapilah dan carilah di kedalaman bias cahaya di baliknya. Dan bila kebahagiaan muncul, sikapilah secara positif, hayati dan antisipasilah. Sebab derita sedang bersembunyi di sela-sela bayangannya.


Lantas masih adakah senandung di balik derita?
Bagi saya, selalu masih ada jawaban. Entahkah jawaban itu tersirat atau tersurat dalam setiap pengalaman, atau pula tersedia dengan jelas di depan mata. Selalu ada jalan di tengah kebuntuan. Sebab, kekuatan pengharapan mempu merubah situasi dan membalikan kedudukan. Semangat dan motivasi harus dipacu dengan kemampuan yang dimiliki guna menemukan jawaban di tengah penderitaan.

Ada begitu banyak pengalaman hidup yang bisa dirujuk saat menderita. Misalnya, membangkitkan kenangan akan kebahagiaan hidup dahulu sebelum penderitaan dialami. Lewat hal ini semangat dan motivasi dipacu untuk tidak duduk berlarut-larut dalam kekecewaan. Selain itu penting juga membagikan pengalaman menderita dengan orang lain, orang yang kita percayai, orang terdekat dalam hidup kita. Sebab, dengan berbagi kita mengurangi sikap egois, pesimis, angkuh, dan bahkan arogan, yang bisa menghasilkan skema pengkotak-kotakan yang sangat artifisial, yang justru membawa kita jauh lebih dalam ke dalam penderitaan. Dengan berbagi, kita menambahkan kualitas simpatik, empatik, respect, responsibility, dan fraternity dalam memaknai penderitaaan di kemudian hari, bagi diri kita dan bagi orang lain. Selanjutnya, perjuangan yang terus-menerus dan berkarya dalam hidup bisa menjadi senjata ampuh untuk bangkit memaknai penderitaan. Sebab di balik tetes keringat, lelah yang menggerogoti raga serta beban yang menghantui batin, terdapat benih-benih berkualitas yang bisa membantu menuju proses pematangan diri.

Dan yang lebih penting lagi yakni, Tuhan bukanlah sumber penderitaan. Dia tak pernah menjebak kita di jalan yang salah. Tuhan juga tak pernah menghendaki kita untuk larut dalam penderitaan. Dalam bahasa iman, penderitaan yang kita alami adalah konsekuensi pilihan manusia, menyimpang dari jalan yang ditetapkan-Nya. Namun, meski kita lalai, Tuhan senantiasa menunjukkan kasih-Nya kepada kita, berupa pesan-pesan bijak dan mulia yang bisa kita alami dalam hidup di dunia ini. Pesan-pesan yang membangkitkan semangat untuk mencintai-Nya, benih-benih kasih yang menggetarkan jiwa kita untuk berjuang mencapai kesempurnaan dalam Tuhan, dan jejak-jejak kebijaksanaan yang berguna bagi proses pematangan diri dalam iman ketika menderita.

Lantas, masih adakah senandung di balik derita? Jawabannya masih! Selalu dan senantias. Masih ada melodi indah di balik ratapan, masih ada sesungging senyuman yang bisa kita tebarkan walau bibir terasa berat untuk menorehkannya. Sungai masih mengalir, dan angin masih bertiup. Hidup masih berjalan, dan tugas kita adalah menjalaninya. Kebahagiaan dan penderitaan masih datang silih berganti, dan tugas kita adalah mengalami dan memaknainya. Menutup catatan ini, saya teringat dengan ungkapan seorang sahabat saya...

"Tuhan telah menganugerahi kita seraut wajah yang sangat indah. Maka, tugas kita adalah memberinya ekspresi"


By : Ivan Jeremy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar