Haruskah Ajaran Agama Jadi Provokasi?

Posted on Kamis, 06 Oktober 2011

Nalar dan hati saya tergelitik ketika seorang teman menyodorkan (via online) beberapa lembar kertas putih yang didalamnya terungkap jelas kritikan pedas terhadap salah satu doktrin yang diimani agamaku. Sebelumnya, aku berpikir tuk membacanya dalam kacamata orang awam saja. Namun, akhirnya tidak, setelah saya menelisik sedikit demi sedikit jejak-jejak historis dan data-data biblis yang disodorkan di dalamnya. Jujur saja, saya sedikit terkesima. Hebat !!!! Sebuah tulisan yang patut diacungi empat jempol ! (maksudnya, dua jempol tangan, ditambah dua jempol kaki…hehe). Tapi, sayangnya kekaguman saya tak lama. Saya malah terpekur di tempat tidur setelah membacanya.

Setelah bangun, saya berpikir apakah benar apa yang tertuang di dalamnya. Lewat beberapa penjelajahan antara kutub rasio dan kutub hati atau rasa, kebenaran yang terungkap di dalamnya harus saya akui, sedikitnya sih iya alias mengena. Tapi, banyaknya tidak. Sayang sekali. Pasalnya, jika dipikirkan secara logis, persoalan ajaran, dogma atau doktrin, tentu tidak serta merta meruntuhkan iman kita bukan? Apalagi, setiap kita sudah merasa ‘in’ dengan ajaran agamanya ;).
Tak cukup sampai di situ, saya pun berefleksi lebih lanjut. Kali, ini dengan memperlebar amplitudo rasa (tensinya naik) lewat beberapa pertanyaan, tapi syukurlah tidak sampai tersinggung. Pertanyaannya :
  1. Mengapa orang sering ribut soal agama dan Tuhan? Mengapa tak diam dalam iman yang diyakini saja, sambil mencari di kedalaman hati ataupun bertanya demi memahami Dia yang disebut Tuhan itu?
  2. Mengapa harus menjadi sewot dengan doktrin atau dogma agama orang lain? Apakah dirimu sudah memahami dengan jelas, dan dengan pasti doktrin atau ajaran agama yang kamu imani, sehingga kebenarannya tak terbantahkan lagi? Apakah kebenaran imanmu itu bisa membuktikan dan membuat Tuhan nampak secara nyata?
  3. Mengapa harus nalar anda menjadi repot karena agamaku atau Tuhan yang aku imani??? Sadarlah bahwa sehebat apapun kita menjelaskan dan memahami Identitas Tuhan dengan menggunakan jurus kajian pustaka atau historis, atau biblis atau teologis, kita tidak akan menemukan Tuhan. Tapi, apa salahnya jika aku mengimani Tuhan seturut ajaran agamaku? Dan bila ada yang mengklaim bahwa ajaran agama pun tidak dapat menunjukkan Tuhan secara nyata, maka adakah yang lebih baik dari agama dalam mencari Tuhan?
  4. Di manakah kebebasan beragama bila doktrin, dogma dan ajaran agama dipertentangkan satu sama lain? Haruskah ada kesamaan ajaran agama? Tentu tidak bukan? Kalaupun ada, apakah itu harus menjadi benih bagi pertentangan? Dan jika tidak, apakah itu pun harus diperdebatkan?
Melihat tulisan tersebut (maaf jika saya menganggap ini kritikan) saya berpikir positif saja. Soalnya, saya bisa memahami, bahwa yang bersangkutan belum memahami secara totalitas doktrin yang dimaksudkannya. Tapi, bagaimana jika tulisan tersebut bisa salah dimengerti? Dan sangat disayangkan pula bila tulisan yang bersangkutan bisa dianggap jadi biang kerok pertentangan atau bahkan konflik. Hmm… Apakah perbedaan ajaran agama harus menjadi sebuah bentuk provokasi klasik yang mesti dibaharui terus-menerus? Saya setuju dengan salah satu ajaran Islam yang berbunyi : “Lakum Dinukum Waliyadin” yang artinya, “Bagimu Agamamu, dan Bagiku Agamaku”. So? Mengapa kita tidak mencari Tuhan dalam ajaran agama kita masing-masing?


Salam
Takzim Selalu

"mwtd"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar