Prospek alam di Sulawesi Utara (Sulut) begitu mencengangkan. Pasalnya, sebagian besar wilayah yang lebih dikenal dengan julukkan Bumi Nyiur Melambai ini, dihiasi dengan 'hijau daun' atau hutan-hutan hijau yang mengagumkan. Fakta ini menimbulkan kebanggaan. Tak sedikit warga yang hidup dan berkembang dalam kosmos hijau ini. Bahkan dengan profesi sebagai petani saja, pendidikan berkualitas diperoleh generasi muda mereka. Tak hanya itu, saking banyaknya lahan hijau yang tersebar di berbagai zona daerah yang terkenal pula dengan potensi Sumber Daya Alam (SDA) ini, masyarakatnya punya banyak pilihan hidup. Mengelola dan dikelola. Ya.... Lahan yang dimiliki bisa mendatangkan kesejahteraan hidup; minimal untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan kata lain, ada hubungan saling menguntungkan atau bahasa biologinya simbiosis mutualisme antara 'tuan proyek' (pemilik lahan) dengan pekerja upahan. Singkatnya, alam di Sulut telah menjadi berkat terindah dari Sang Pencipta bagi masyarakat daerah ini.
Potensi SDA yang dimiliki daerah ini membuat saya terhenyak. "Betapa kayanya daerah ini," gumamku dalam hati. Meski bukan putera daerah ini (alias pendatang dari negeri seribu pulau), negeri ini seperti rumah saya sendiri. Satu hal unik yang tak bisa saya lupakan yaitu, saat pertama kali mencicipi makanan khas kebanggaan Sulut ini, yakni TINUTUAN atau BUBUR MANADO. Kesan pertama tentu kurang mengenakkan. Apalagi, campuran berbagai hijau daunnya plus warna kuning yang mengental, sontak membuat saya berpikir, sajian itu seperti makanan 'alien' (maaf, kata alien bukan saya maksudkan sebagai makanan makhluk berwarna hijau, berkepala bulat agak kerucut, bermata besar dan menggunakan bahasa komunikasi yang serba semitik seperti yang dilukiskan dalam theater Box Office Movies, karya negeri Paman Sama itu, tapi yang saya maksudkan dengan kata alien adalah istilah asing, yang artinya lain dari yang lain). Mau tak mau, ya harus saya makan. Pasalnya, saya kebetulan ditraktir....hehehe.... Apalagi saat itu rasa lapar saya bukan kepalang hebatnya....!!! Ya sudah, dikonsumsi saja!!!
Sendokkan pertama terasa berbeda! Sendokkan kedua untung saja tak keselek! Tapi setelah sendokkan ketiga, rasanya luar biasa (hmmm.... saya jadi lapar tinutuan sewaktu menulis catatan kecil ini). Tak pelak dalam 10 menit, tinutuan yang panasnya minta ampun itu saya habiskan (wuiihh... rakus amat alias sorodo.com). Bahkan, bukan cuma sepiring!!! Saya minta tambah!!! Alhasil, kocek teman saya pun terkuras. Dengan tersenyum kecut plus wajah masam dia akhirnya menyetujuinya (hehehe.... emang enak diperasin!!! Padahal sewaktu diajak, aku sudah menolaknya. Namun, dia saja yang ngotot!!!) dengan catatan, besoknya gantian. Aku yang traktir.
Dari pengalaman ini, saya berpikir pantas saja, intelek orang-orang Sulut tinggi-tinggi. Makanannya sebagian besar sayur mayur. Mereka enggan makan bila tak ada sayur!!! Fakta tinutuan sebagai makanan bergizi pun tak dapat dipungkiri. Bubur Manado itu, kaya akan vitamin A, B, D Kalsium, Protein, dan berbagai vitamin lainnya yang diperlukan bagi tulang, gigi, sistim pencernaan, kekebalan tubuh, perkembangan otak dan jantung. Seharusnya warga Sulut harusnya bangga memiliki makanan tradisional seperti ini.
Tapi... Kenyataan sekarang berbicara lain. Hal itu hanya terjadi sekitar 8 tahun yang lalu, saat raut wajah daerah ini masih terlihat cantik dan mempesonakan setiap mata yang memandangnya dari kejauhan. Daya tarik tinutuan seakan hilang dalam rentang waktu 8 tahun saja. Buktinya, warung tempat makan tinutuan di Kota Manado, tak sebanyak dahulu lagi. Kalau tak percaya hitung saja dengan jari anda!! Selain di Wakeke, (tempat makan tinutuan favorit yang harganya Rp.10 ribu ini) di mana lagi? Sedikit saja bukan? Ironis!!!! Fakta ini bukan sekedar basa-basi saya saja. Sejak terjun ke dunia kuli tinta tahun lalu, saya punya keprihatinan soal ini. Menurut beberapa sumber, kelangkaan tinutuan di Kota Pariwisata Dunia 2010 ini didorong beberapa hal.
1. Sayur-sayuran yang diperlukan seperti kangkung, gedi yang berlendir itu dan kawan-kawannya, sudah sulit didapat. Pasalnya, perkebunan di Manado hampir tak ada lagi. Kebanyakan dibeli di pasar, hasil panen warga petani yang tinggal di daerah 'gunung'. "Untuk di Manado saja sudah jarang. Bahkan mungkin sudah tak ada," celoteh beberapa sumber mengenai lahan perkebunan di Manado.
2. Rempah-rempahnya pun mulai sulit diproduksi warga di Kota Manado. Sebab itu, banyak yang mengeluh jika harga bawang, rica, tomat alias 'barito' menjadi mahal. Bagaimana tidak, sebagian besar pasokan barito berasal dari daerah yang jauhnya bukan kepalang dari Manado. Salah satu contoh, batang-bawang yang sering dijual di pasar, plus kentang dan 'akar kuning' (wortel) dipasok dari Sinisir, Kecamatan Modoinding Minahasa Selatan (Minsel). "Kalau lagi murah yang syukur. Tapi kalau lagi mahal, tinutuannya juga pasti mahal," kata salah seorang pemilik warung tinutuan di Manado, sekitar wilayah Kleak, Bahu ini.
3. Kadang tingkat konsumen yang datang tak seperti dulu lagi. Tak setiap hari warung tinutuan ramai pengunjung. Kebanyakan dari mereka suka mengkonsumsi Jappanesse Food dan Chinesse Food yang lezatnya maknyozz itu. Bahkan sangat jarang ditemukan generasi muda makan tinutuan. Mereka cenderung mengkonsumsi Kentucky Fried Chicken (KFC) yang pencetusnya digelar "Si Penjagal Ayam Sedunia" itu, ayam lezat dan gurih ala A&W, dan yang lagi top sekarang yaitu Mc Donald atau tempat makan hamburger atau apa-lah namanya, di kawasan Mega Mas itu.
Tiga faktor di atas, tentunya sangat masuk akal. Bagaimana tidak, di satu sisi himpitan restoran ala borjuis dan perkembangan pembangunan Kota Manado menjadi Kota Metropolitan telah mengajarkan pada generasi muda untuk mengalienasikan (mengasingkan) rasa tinutuan yang khas itu. Bukan tidak mungkin, tinutuan akan hilang dengan sendirinya dari pesona eksotis Kota Manado. Ahhh... Mudah-mudahan saja tidak!!!
Selain itu ada aspek lain yang harusnya kita pertimbangkan yaitu, sisi hijau Kota Manado. Yang saya maksudkan adalah kecintaan warga akan apotek hidup yang setidaknya bisa membantu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagai contoh, sewaktu berkeliling-keliling di Manado, saya kurang menemukan adanya kepedulian terhadap pentingnya apotek hidup pada beberapa rumah warga. Yang saya temui malah sebaliknya. Lahan kecil yang harusnya dipergunakan untuk membuat apotek hidup, malah dihiasi dengan bunga-bunga eksotik seperti kamboja, bunga 8 dewa, anggrek-anggrek indah yang aduhai, bunga sedap malam, pinus merah, kembang yang mekarnya jam sembilan pagi dan jam 4 sore, mawar merah dan lain sebagainya. Sebenarnya tak jadi soal... Tapi alangkah baiknya jika difungsikan saja untuk apotek hidup. Bukankah apotek hidup penting juga bagi kesehatan kita? Selain itu, apotek hidup juga bisa menolong kita mencukupi asupan gizi yang diperlukan bagi tubuh kita.
Berbicara soal gizi, tak dapat dilepaskan dari alam. Lihatlah bagaimana sepiring tinutuan bisa mencukupkan gizi yang diperlukan tubuh kita walau tak secara langsung bisa digolongkan dalam kategori 4 sehat 5 sempurna. Semestinya kita harus lebih peduli lagi soal alam hijau yang dimiliki daerah ini. Yang mengherankan saya, justru keseimbangan iklim yang ada di daerah ini sangat dipengaruhi oleh daerah-daerah pedesaan. Hampir sekitar 80% temperatur suhu yang naik turun di Sulut ini diseimbangkan oleh daerah-daerah pedesaan karena hutannya masih lebat. Tapi, sayangnya, aktivitas pertambangan yang terjadi di beberapa daerah, membuat keseimbangan itu tak berjalan semestinya. Parahnya lagi, adanya aksi pengrusakan hutan yang dilakukan dengan memakai kedok renovasi alam. Ketakseimbangan iklim itu bukan karena faktor pemanasan global saja, tetapi juga datangnya dari kondisi alam yang carut marut. Perubahan cuaca yang dialami sungguh ekstrim. Malah cuaca sering bergonta-ganti pasangan. Mendung dengan hujan, mendung dengan panas, dan bahkan hujan dengan panas. Aneh, cuaca di daerah ini pun berselingkuh alias bahugel.com. Memiriskan!!!!
Manado sendiri panasnya minta ampun!!! Padahal, sebelum menginjakkan kaki di Manado, saya tahu bahwa Kota ini terkenal karena sejuknya bahkan dinginnya. Secara geografis seharusnya memang benar demikian. Pasalnya, letak Sulut ini, berada di atas garis khatulistiwa yang 0 derajat itu. Sedangkan negeri asal saya berada di bawah garis khatulistiwa tapi tidak terlalu jauh. Tentu saja, perbedaan letak geografis ini mempengaruhi juga iklim atau temperaturnya. Sulut yang letaknya di atas garis 0 derajat itu tentunya lebih dingin dibandingkan dengan daerah saya yang letaknya berdekatan di bawah garis khatulistiwa. Jika tak percaya silahkan saja lihat peta, atlas atau bola dunia yang bahasa gaulnya disebut globe itu. Keadaan geografis ini tentu akan lebih baik jika didukung dengan kondisi alam yang baik pula. Tapi anehnya, saat ini seakan tak ada lagi. Panasnya Manado tidak kurang dari panasnya daerah saya!!! Jika begini terus, Air Conditioner (AC) Freon maupun non freon pasti laris manis. Akhirnya, pemanasan global pun tak terminimalisir. Bahkan bukan tidak mungkin kulit orang-orang Manado yang putih mulus ibarat 'ubi kupas' itu menjadi 'ubi matang' atau sawo matang. Wahhh.... identitas aksidentalnya bakal hilang dehhh.... hehehehe...
Jika dipikir-pikir keadaan panas di Manado bisa diakalin. Pasalnya, Manado kan punya hutan lindung yang sudah masuk dalam daftar hutan lindung Indonesia. Ya.... Hutan Lindung yang bertempat di Gunung Tumpa itu. Bagaimana perkembangannya saya tidak tahu. Padahal, hutan itu bisa menstabilkan perubahan iklim di Kota Manado dan sekitarnya. Anehnya, hutan lindung itu seakan tak diindahkan. Menggelikan!!!! Sayang kan apabila hutan yang menjadi rumah hewan 'Tarsisius' yang menjadi kebanggaan Sulut ini ikut punah juga kan???
Entah mengapa, para politikrat (perpaduan antara politikus dan birokrat) sangat sibuk berceloteh soal anggaran pembangunan kota tapi tak repot soal renovasi alam. Nanti ketika ada bencana, baru orang-orang top eksekutif dan legislatif ini belingsatan kesana-kemari melakukan tour kunjungan sambil memberikan bantuan diiringi pengawalan para 'kesatria negara' disertai bunyi sirine yang hampir tak ada bedanya dengan sirine milik mobil ambulance atau mobil jenazah. Jika setiap daerah di Sulut ini terkena bencana kira-kira kas daerah bakal kosong nggak ya???? Saya harap tidak demikian!!! Soalnya, jika sudah kosong, lantas para pemimpin kita mau digaji pake apa... Lucu!!! Jika begini keadaannya, saya punya usul. "Bisa nggak ditambah satu partai lagi, yaitu Partai Hijau Daun yang fokusnya hanya soal alam saja. Anggotanya dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dengan giatnya bekerja untuk alam di Sulut ini". Yang lebih mengherankan saya lagi, upaya dan jerih payah para pencinta alam ini seakan ditertawai saja. Malah peluh, penat dan letih mereka dianggap bualan saja. "Makasih Pak!!! Mudah-mudahan daerah tempat tinggal anda tak terkena bencana suatu waktu nanti". Mungkin sebaris kalimat ini yang bisa diungkapkan mereka.
Saya khawatir, alam di Sulut ini sudah tak menggairahkan lagi. Hanya obyek-obyek wisatanya saja yang diminati. Pesona tinutuan yang mengandung kekayaan alam Bumi Nyiur Melambai ini mulai hilang perlahan-lahan. Hanya di daerah-daerah pedesaan saja, aktivitas mengkonsumsi tinutuan menjadi rutinitas sarapan pagi alias smokol. Bukan tidak mungkin 50 tahun lagi tinutuan akan musnah, karena alam di Sulut tak terawat lagi. Uniknya tinutuan semestinya menggerakkan hati dan pikiran kita untuk mencintai alam ini. Kata Filsuf Yong Ohoittimur, orang yang mencintai alam atas dasar kecintaannya terhadap karya Tuhan yang Maha Agung, adalah orang yang memiliki kecerdasan lingkungan. Percuma juga kan kalau pendidikan karakter, dan pendidikan yang berbasis kompetensi tidak dibarengi dengan pendidikan lingkungan? Toh, mencintai alam tidak mengurangi dan merugikan eksistensi humanis (kemanusiaan) kita bukan??? Cintailah alam seperti dirimu sendiri!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar